Loading

Nasyid di Era Budaya Populer Jadi Kajian Disertasi, Agus Idwar Jumhadi Lulus Doktor dengan Predikat Cum Laude


Reporter: Syah Ma'mur
2 Jam lalu, Dibaca : 107 kali


Dr. Agus Idwar Jumhadi, S. Sos., M. Sos.


BANDUNG, Medikom — Perjalanan nasyid dalam menghadapi derasnya arus budaya populer di Indonesia menjadi fokus penelitian Agus Idwar Jumhadi (AIJ), mahasiswa Program Doktor Ilmu Dakwah Universitas Islam As-Syafi’iyah Jakarta. Melalui penelitian tersebut, Agus berhasil mempertahankan disertasinya dan meraih predikat cum laude dalam Sidang Terbuka Disertasi yang berlangsung pada Selasa (11/8/2026).

Disertasi Agus mengangkat tema “Paradigma Dakwah Trilogi Nasyid dalam Budaya Populer di Indonesia”. Kajian tersebut mencoba melihat bagaimana nasyid beradaptasi dengan perubahan zaman, khususnya ketika musik dakwah harus berhadapan dengan karakter budaya populer yang terus berkembang.

Dalam penelitiannya, Agus memperkenalkan konsep Trilogi Nasyid yang terdiri dari tiga unsur penting, yakni kemasan, lirik, dan munsyid. Ketiganya dipandang memiliki peran strategis dalam menjaga kekuatan pesan dakwah sekaligus membuat nasyid tetap menarik dan dapat diterima oleh masyarakat luas.

Agus melihat budaya populer sebagai budaya massa yang identik dengan sesuatu yang kekinian dan dalam banyak aspek memiliki keterkaitan dengan kepentingan ekonomi maupun komersial. Kondisi tersebut membuat perjumpaan antara nasyid dan budaya populer menjadi ruang terjadinya adaptasi sekaligus negosiasi, terutama dalam hal estetika, proses produksi, distribusi, hingga pola konsumsi masyarakat.

Salah satu temuan penting dalam penelitian tersebut adalah penggunaan dua strategi kreatif, yaitu Sibghah dan Ikhtira’. Sibghah dimaknai sebagai upaya memberikan warna dan karakter Islami terhadap bentuk budaya populer yang sudah familiar di tengah masyarakat. Sementara Ikhtira’ merupakan pendekatan kreatif dengan menghadirkan bentuk maupun ekspresi nasyid yang baru dan inovatif.

Kedua strategi tersebut kemudian berjalan melalui Trilogi Nasyid. Kemasan dituntut mampu beradaptasi, lirik harus dapat menjawab konteks kehidupan masyarakat, sedangkan munsyid memiliki posisi sebagai komunikator sekaligus figur yang membawa dan merepresentasikan nilai-nilai dakwah.

“Adaptasi terhadap budaya populer tidak serta-merta menghilangkan karakter dasar nasyid. Munsyid tidak hanya menempatkan nasyid sebagai produk hiburan, tetapi terutama sebagai media dakwah,” ujar Agus.

Ia menjelaskan, orientasi ekonomi yang kuat dalam budaya populer juga tidak otomatis menjadi tujuan utama dalam perkembangan nasyid. Dalam kondisi tertentu, kecenderungan tersebut justru berhadapan dengan prinsip yang dipegang para munsyid, yakni menjadikan nasyid sebagai sarana menyampaikan nilai-nilai Islam, membangun kesadaran serta ikut memberikan pembinaan spiritual kepada masyarakat.

Dari penelitian tersebut, Agus menyimpulkan bahwa perubahan zaman dapat memengaruhi cara nasyid dikemas, diproduksi, dan disampaikan kepada publik, tetapi tidak harus menghilangkan ruh maupun tujuan dakwah yang menjadi fondasinya.

Dengan memadukan Trilogi Nasyid bersama strategi Sibghah dan Ikhtira’, nasyid dinilai memiliki ruang untuk terus berdialog dengan perkembangan budaya populer tanpa harus kehilangan identitas dan nilai yang dibawanya.

Dr. Agus Idwar Jumhadi, S. Sos., M. Sos.

“Paradigma ini menegaskan bahwa nasyid mampu mempertemukan estetika, etika, spiritualitas, dan kreativitas, sehingga tetap relevan sebagai media dakwah yang komunikatif dan membumi di tengah budaya populer Indonesia,” kata Agus.

Sidang terbuka tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh dari dunia seni, musik, dakwah, dan organisasi kemasyarakatan. Di antaranya Opick, pelantun Tombo Ati, Dwiki Dharmawan, dan Neno Warisman.

Sejumlah tokoh lainnya yang hadir antara lain Ketua Yayasan Dompet Dhuafa Ahmad Juwaini, Deputy BAZNAS Arifin Purwakananta, Ustaz Nasir Tajang, serta para tamu undangan.

Turut hadir pula Presiden PKS Almuzzammil Yusuf dan Ketua DPRD DKI Jakarta Suhud Alynudin.

Tag : No Tag

Berita Terkait