Reporter: Syah Ma'mur
14 Jam lalu, Dibaca : 161 kali
*Bandung Jawa Barat Indonesia —* Hampir dua dekade telah berlalu sejak Nazrey Johani meninggalkan Raihan. Namun, kisah keluarnya salah satu vokalis paling ikonik dalam sejarah nasyid Malaysia bahkan seantero Asia Tenggara itu ternyata belum benar-benar selesai.
Setiap kali nama
Nazrey kembali muncul, nama Raihan hampir selalu ikut disebut.
Terbaru,
pernyataan Nazrey mengenai keputusannya meninggalkan Raihan pada 2006 kembali
beredar di media sosial. Pernyataan tersebut memunculkan kembali perdebatan
lama mengenai alasan dirinya meninggalkan kelompok yang telah membesarkan
namanya hingga ke panggung internasional.
Nazrey menyebut
keputusan tersebut berkaitan dengan keinginannya kembali ke Sabah dan
memperkuat aktivitas dakwah.
Namun ada satu
fakta yang menarik untuk ditelusuri lebih jauh.
*Setelah
meninggalkan Raihan atas alasan dakwah, perjalanan Nazrey ternyata tidak pernah
benar-benar jauh dari dunia musik khusushan genre Nasyid.*
Justru sebaliknya.
Ia membuat album
solo, kembali menyanyikan karya-karya lama The Zikr, bergabung kembali dalam
aktivitas The Zikr, hingga pada 2026 membentuk The Rayhan bersama dua mantan
anggota Raihan.
Pertanyaannya
kemudian bukan lagi sekadar mengapa Nazrey meninggalkan Raihan.
*Tetapi mengapa
setelah hampir 20 tahun, jalannya selalu kembali kepada dunia nasyid yang
dahulu ditinggalkannya?*
## Dari The Zikr
ke Raihan
Untuk memahami
perjalanan Nazrey, kita harus kembali jauh sebelum Raihan lahir.
The Zikr merupakan
salah satu pelopor penting nasyid modern Malaysia. Pada era awal 1990-an,
kelompok yang berada di bawah OVA Production tersebut menghadirkan warna baru
dalam musik dakwah Islam.
Medikom pernah
mengulas perjalanan The Zikr sebagai salah satu legenda nasyid Islami yang
melahirkan sejumlah karya yang hingga kini masih dikenal penggemarnya.
Album seperti
*Kenangan (1992), Antara Dua Cinta (1993), dan Secerah Pawana (1995)* menjadi
bagian dari sejarah perjalanan kelompok tersebut. Di antara karya yang tetap
hidup sampai sekarang terdapat Antara Dua Cinta, Secerah Pawana, Harapan Ku
Padamu Subur Kembali, hingga Tak Seindah Sentuhan Mata.
Nazrey Johani
merupakan salah satu nama yang berada dalam perjalanan awal The Zikr.
Kemudian sejarah
berubah.
Sebagian anggota
dan personel yang memiliki pengalaman bersama The Zikr berkembang menjadi
kelompok baru yang kemudian dikenal sebagai Raihan.
Raihan akhirnya
menjadi fenomena besar.
Dan Nazrey menjadi
salah satu suara yang paling melekat pada fenomena tersebut.
## Raihan Membawa
Nazrey ke 5 benua di Dunia
Bersama Raihan,
Nazrey menjalani perjalanan sekitar satu dekade.
Raihan bukan lagi
sekadar kelompok nasyid.
Mereka menjadi
fenomena budaya.
Album-album
seperti Puji-Pujian, Syukur,Senyum,Demi Masa Gema Alam Allahu , Ameen
Tawakal memperkuat posisi Raihan sebagai
salah satu kelompok nasyid paling berpengaruh di kawasan ASEAN bahkan
Internasional.
Mereka tampil di 5
benua berbagai negara dan membawa nasyid
ke panggung yang sebelumnya sulit dibayangkan oleh kelompok musik Islami/nasyid
indie.
Namun pada 2006,
di Album Tawakal Raihan Nazrey memilih keluar.
Alasannya, menurut
penjelasan yang berulang kali disampaikannya, adalah ingin kembali ke Sabah
tanah kelahiranya dan memperkuat aktivitas dakwah dikampung halamanya.
Keputusan itu
menjadi titik balik.
Bagi Raihan,
kehilangan Nazrey berarti kehilangan salah satu figur penting.
Bagi Nazrey, itu
merupakan awal dari perjalanan baru.
## Tetapi Mengapa
Musik nasyid Tidak Pernah Benar-Benar Ditinggalkan?
Di sinilah bagian
yang menarik.
Setelah keluar
dari Raihan, Nazrey tidak sepenuhnya meninggalkan dunia musik.
Ia justru merilis
album solo *Syahadah* pada 2007.
Setelah itu Nazrey
muncul kembali dengan akar lamanya: The Zikr.
Pada 2008, Nazrey
terlibat dalam album *Nasyid Nostalgia Memori – The Zikr*, yang menghadirkan
kembali sejumlah lagu lama The Zikr dengan aransemen baru.
Lagu-lagu seperti
Secerah Pawana, Harapan Ku Padamu Subur Kembali, Tak Seindah Sentuhan Mata,
Antara Dua Cinta, dan Mengemis Kasih kembali diperkenalkan kepada pendengar.
Artinya,
perjalanan Nazrey setelah Raihan tidak pernah benar-benar meninggalkan musik.
Yang berubah
hanyalah nama kelompok, panggung, dan bentuk perjuangannya.
## The Zikr
Kembali: Nazrey Muncul Lagi
Tahun 2025 menjadi
babak baru.
The Zikr kembali
menghadirkan karya baru setelah lebih dari tiga dekade tidak merilis karya
rekaman baru.
Single tersebut
diberi judul *“Kembali”. Remake nasyid original The Zikr **Antara Dua Cinta,
**Dunia Baru Islam* , "Isteri Cerdik Yang Solehah* , *Kawan*
Menariknya, Nazrey
Johani kembali hadir di dalamnya.
Dari press release
resmi media dan interview Medikom dengan Rosdi Azahari yang akrab di panggil
Acik(Perkusi dan Back Voc The Zikr) Medikom mencatat bahwa Kembali membawa
pesan tentang kesadaran, pertobatan, kembali kepada Allah, kembali kepada
fitrah, serta persaudaraan. Nazrey disebut sebagai salah satu anggota awal The
Zikr yang ikut hadir dalam karya tersebut.
Bahkan, comeback
tersebut tidak berhenti pada satu lagu.
Dalam pemberitaan
eksklusif Medikom, The Zikr melalui
jubirnya Rosdi mengungkapkan kepada Medikom rencana sejumlah single
lanjutan, termasuk Mengemis Kasih(sudah release) bersama Yabang Khalifah band,
Isteri Solehah(sudah release), Secerah Pawana versi baru, dan Iktikad.
Jadi, setelah
meninggalkan Raihan dengan narasi ingin lebih fokus kepada dakwah, Nazrey
kembali berada di tengah sebuah proyek musik nasyid.
Bukan sekadar
tampil sebagai nostalgia.
Tetapi ikut
menghidupkan kembali sebuah nama besar dari masa lalunya.
## Dakwah Memang
Bisa Melalui Banyak Jalan
Di sinilah
persoalan dakwah perlu dilihat lebih luas.
Al-Qur'an tidak
membatasi dakwah hanya melalui satu bentuk komunikasi.
Allah berfirman
dalam QS. An-Nahl ayat 125:
> *“Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan
berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.”*
Ayat tersebut
menekankan *hikmah, nasihat yang baik dan cara penyampaian yang baik* sebagai
prinsip dakwah.
Dalam QS. Ali
Imran ayat 104, Allah juga berfirman:
> *“Dan
hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.”*
Sementara QS.
Fussilat ayat 33 memberikan penekanan yang lebih menarik:
> *“Dan
siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah,
mengerjakan kebajikan dan berkata, ‘Sungguh, aku termasuk orang-orang
Muslim.’”*
Ayat terakhir
tersebut bahkan mengaitkan *perkataan yang baik, ajakan kepada Allah dan amal
saleh*.
Dengan demikian,
secara prinsip, dakwah memang dapat menggunakan berbagai bentuk komunikasi
selama pesan dan caranya sesuai dengan nilai Islam.
## Bagaimana
dengan Nyanyian?
Ini bagian yang
sering menjadi perdebatan.
Tidak ada hadis
sahih yang secara eksplisit mengatakan, *“berdakwahlah dengan bernyanyi.”*
Namun terdapat
sejumlah hadis sahih yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak menutup
seluruh bentuk syair, nyanyian atau hiburan.
Dalam *Sahih
Muslim 892c*, Aisyah RA menceritakan bahwa pada hari Id terdapat dua anak
perempuan yang bernyanyi dan memainkan duff. Abu Bakar RA sempat menegur
mereka, tetapi Rasulullah SAW meminta Abu Bakar membiarkan mereka karena saat
itu merupakan hari Id.
Nash ini tentu
tidak otomatis berarti seluruh bentuk musik atau nyanyian diperbolehkan tanpa
batas. Tetapi hadis tersebut merupakan salah satu dalil sahih bahwa *nyanyian
dalam konteks tertentu tidak otomatis dipandang sebagai sesuatu yang
terlarang.*
Lebih jauh lagi,
terdapat contoh yang sangat penting mengenai *syair sebagai media perjuangan
dakwah*.
Hasan bin Tsabit
RA dikenal sebagai penyair Rasulullah SAW. Dalam Sahih al-Bukhari, Rasulullah
SAW memberikan dukungan kepada Hasan untuk menjawab serangan terhadap Islam
melalui syair dan berdoa agar Allah menguatkannya dengan Ruhul Qudus.
Artinya,
Rasulullah SAW pernah memberikan ruang kepada *seni bahasa dan syair* untuk
menyampaikan pesan serta membela Islam.
Dari sini, nasyid
dapat ditempatkan dalam konteks yang lebih tepat: *bukan karena ada satu hadis
yang secara spesifik memerintahkan dakwah dengan lagu, tetapi karena syair dan
bentuk seni suara tertentu memiliki preseden dalam Sunnah sebagai sarana menyampaikan
pesan.*
Yang menjadi
persoalan kemudian adalah *isi, tujuan, cara, dan dampaknya*.
Apakah liriknya
mengajak kepada kebaikan?
Apakah tidak
mengandung kemaksiatan?
Apakah cara
penyampaiannya tetap menjaga adab?
Dan yang paling
penting, apakah orang yang menyampaikan pesan tersebut juga berusaha
menjalankan nilai yang disampaikannya?
## Lalu Muncul The
Rayhan
Belum selesai
cerita The Zikr, pada 2026 muncul babak berikutnya.
Nazrey kembali
membentuk kelompok anyar bersama dua mantan anggota Raihan lainnya, Amran
Ibrahim dan Afad.
Nama kelompok
tersebut adalah *The Rayhan*.
Maka lingkaran
sejarah seolah kembali ke titik awal.
1.The Zikr.
2.Raihan.
3.Album solo
Nazrey Johani.
4.The Zikr Kembali
2025.
5.The Rayhan.
Sulit untuk tidak
melihat bahwa dunia nasyid memang menjadi bagian yang sangat kuat dalam
perjalanan hidup Nazrey.
## Dakwah atau
Dunia Seni?
Di sinilah
pertanyaan yang lebih tajam muncul.
Ketika Nazrey
meninggalkan Raihan pada 2006, publik menerima penjelasan bahwa ia ingin
kembali ke Sabah untuk berdakwah.
Dan sampai
sekarang, aktivitas dakwah tersebut memang tetap menjadi bagian dari
kehidupannya.
Karena itu, tidak
tepat apabila orang luar langsung menyimpulkan bahwa dakwah hanyalah alasan.
Tetapi pada saat
yang sama, publik juga memiliki alasan untuk bertanya.
Jika dunia
panggung dan musik dianggap sekadar pekerjaan ketika berada di Raihan, lalu
bagaimana menjelaskan perjalanan berikutnya?
Album solo.
Album nostalgia
The Zikr.
The Zikr kembali
dan remake beberapa lagu nasyid The Zikr.
Dan sekarang The
Rayhan.
Apakah semuanya
merupakan bagian dari dakwah?
Ataukah sejak awal
Nazrey memang melihat *musik nasyid sebagai bagian dari dakwah*, sehingga
meninggalkan Raihan sebenarnya bukan berarti meninggalkan dunia musik,
melainkan hanya meninggalkan satu bentuk perjuangan?
Itulah pertanyaan
yang mungkin lebih adil untuk diajukan.
Karena hanya
Nazrey sendiri yang benar-benar mengetahui apa yang terjadi di dalam dirinya
ketika mengambil keputusan pada 2006.
## Dakwah Bukan
Sekadar Medianya
Dalam konteks ini
terdapat satu hadis yang juga relevan.
Rasulullah SAW
bersabda:
>
*“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.”*
Hadis tersebut
diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari 3461.
Pesannya
sederhana: penyampaian kebaikan merupakan bagian penting dalam kehidupan
seorang Muslim.
Medianya dapat
berubah mengikuti zaman.
Dahulu orang
berdakwah melalui majelis, khutbah, tulisan, syair dan perjalanan dari satu
tempat ke tempat lain.
Kini pesan agama
dapat disampaikan melalui buku, radio, televisi, film, podcast, media sosial,
dan tentu saja musik atau nasyid.
Tetapi media
hanyalah alat.
*Yang lebih
penting adalah pesan yang dibawa dan kesesuaian antara pesan tersebut dengan
perilaku orang yang menyampaikannya.*
Karena itu, jika
nasyid disebut sebagai media dakwah, pertanyaan yang layak diajukan bukan
sekadar apakah seseorang masih bernyanyi.
Pertanyaannya
adalah: *apa yang dinyanyikan, untuk tujuan apa, dan apakah nilai yang
dinyanyikan juga berusaha diwujudkan dalam kehidupannya?*
## Ada Satu Hal
yang Tidak Bisa Dibantah
Nazrey boleh
meninggalkan Raihan.
Tetapi sejarah
tidak bisa memisahkan Nazrey dari Raihan.
Demikian pula
sebaliknya.
Nama Nazrey tetap
menjadi bagian dari sejarah emas Raihan.
Dan Raihan tetap
menjadi bagian terbesar dari sejarah karier Nazrey.
Bahkan setelah
hampir 20 tahun, keduanya masih terus bertemu dalam satu ruang yang sama:
*nasyid.*
Yang berubah hanya
bentuknya.
The Zikr
Dulu Raihan.
Kemudian album
solo.
Lalu The Zikr
Kembali 2025.
Kini The Rayhan.
Mungkin karena
itu, pernyataan lama mengenai keluarnya Nazrey dari Raihan selalu kembali
menjadi bahan perbincangan.
Bukan semata-mata
karena konflik lama.
Tetapi karena
publik melihat sebuah perjalanan yang belum benar-benar memiliki titik akhir.
### Begitu Sulit
Melupakan Raihan
The Zikr adalah
akar.
Raihan adalah
fenomena.
Nazrey adalah
salah satu figur yang berada di antara keduanya.
Dan setelah hampir
dua dekade, ia masih bernyanyi.
Masih berdakwah.
Masih kembali ke
lagu-lagu lama.
Masih membangun
kelompok baru.
Pertanyaannya
bukan lagi apakah Nazrey telah meninggalkan Raihan.
Secara faktual,
iya.
Tetapi secara
musikal dan historis, *Nazrey tampaknya tidak pernah benar-benar meninggalkan
Raihan.*
Mungkin itulah
sebabnya kisah ini selalu kembali.
Sebab ada sebagian
perjalanan hidup yang bisa ditinggalkan secara administratif, tetapi tidak
pernah benar-benar bisa ditinggalkan dalam ingatan.
*Begitu suslit
melupakan Raihan.*
Tag : No Tag
Berita Terkait
Rehat
Tajuk
Memahami Pemikiran Jenderal Dudung Abdurachman
PERLUNYA MENGUBAH CARA PANDANG PEDAGANG DI LOKASI WISAT...
Berita Populer
Arief Putra Musisi Anyar Indonesia
Ketua Umum GRIB H Hercules Rozario Marshal, Saya Bagian Dari Masyarakat Indramayu
Project Fly High Terinspirasi dari Pengalaman Hidup Dr Joe dan Tamak
Dari Kegiatan Aksi Sosial, Hercules Kukuhkan Ketua DPC GRIB JAYA Se-Jawa Barat
Chief Mate Syaiful Rohmaan
SAU7ANA
GMBI Kawal Kasus Dugaan Penipuan PT. Rifan Financindo Berjangka di PN Bandung
Indramayu Diguncang Gempa Magnitudo 4.4, Kedalaman 280 Kilometer
Ivan Lahardika Arranger dan Komposer Indonesia
SAU7ANA Come Back