Loading

Tiga Dekade Hijjaz: Dari Era Kaset hingga Istana Budaya, Legenda Nasyid Malaysia yang Memiliki Tempat Istimewa di Hati Penggemar Indonesia


Reporter: Syah Ma'mur
12 Jam lalu, Dibaca : 25 kali


(foto ini dilindungi hak cipta Internasional)

KUALA LUMPUR – Bagi saya sebagai jurnalis Indonesia yang mengikuti perkembangan musik nasyid Malaysia, Hijjaz bukanlah nama yang asing. Sejak kemunculan video klip mereka di berbagai stasiun televisi Indonesia sering wara Wiri di era tahun 2000an pertengahan, saya sudah mengikuti perjalanan dan sepak terjang kumpulan nasyid negeri Jiran ini, mulai dari membeli dan mendengarkan album-album mereka melalui kaset, menyaksikan VCD album Hijjaz, menikmati video klip yang ditayangkan televisi Indonesia, hingga mengikuti berbagai wawancara mereka di sejumlah program televisi yang semua nya ini tahun 2000-an pertengahan.

Bahkan, bisa dikatakan setelah Raihan, Hijjaz merupakan kumpulan nasyid Malaysia yang menempati pilihan kedua sebagai grup nasyid favorit saya.

Ada alasan tersendiri mengapa Hijjaz memiliki tempat istimewa di hati para penggemar nasyid Indonesia. Kekuatan vokal, karakter melodi, aransemen musik serta lirik yang sarat pesan kerohanian menjadi perpaduan yang membuat karya-karya mereka mudah diterima masyarakat lintas generasi.

Nama Hijjaz semakin dikenal luas di Indonesia melalui sejumlah karya yang hingga kini masih melekat dalam ingatan penggemarnya. Sebut saja nasyidb Pemimpin 3 Derajat yang sangat melegenda dari zaman group nasyid  Nadamurni sampai ke Era Hijjaz setelah itu  nasyid Asmaul Husna, nasyid Rasulullah, nasyid Rindu, nasyid Zapin Kesykuran,nasyid Malam, nasyid Sumayyah( nasyid Sumayyah pernah menempati chart teratas nomer wahid selama betahun tahun di salah satu number one yakni radio Dakwah dan Nasyid Indonesia) dan  nasyid Selimut Putih dan masih banyak betumpuk nasyid2 Hijjaz yang top di Indonesia,kalau saya tulis semua judul nasyidnya ntar isi berita ini berubah menjadi daftar lagu nasyid Hijjaz terpopuler di Indonesia sepanjang masa. Sip saya terusin ya pembaca semuanya, dan tidak hanya itu, album Doa dan Zikir juga menjadi salah satu karya yang memperkenalkan kekuatan musik religi nasyid Hijjaz kepada masyarakat Indonesia (kalimat musik religi sangat umum berlaku di Indonesia,berlaku untuk Qasidah moderen seperti group Bimbo, Shalawat seperti Haddad Alwi dan Sulis,dan band band pelantun lagu religi setiap Ramadhan)

Keistimewaan Hijjaz terletak pada kemampuannya memadukan karakter musik nasyid dengan lantunan selawat dan nuansa kerohanian. Perpaduan tersebut bukan sekadar menghadirkan hiburan, tetapi juga memberikan ruang bagi pendengar untuk menikmati musik sekaligus meresapi pesan spiritual di dalamnya.

Tiga Dekade Perjalanan dan Kesetiaan Peminat

Perjalanan Hijjaz dalam industri musik nasyid Malaysia kini telah mencapai tiga dekade. Didirikan pada 10 Januari 1997, group nasyid negeri Jiran ini terus mempertahankan eksistensinya melalui karya-karya yang memiliki karakter tersendiri.

Saat ini Hijjaz diperkuat empat personel, yaitu Munif bin Ahmad, Isman Nadim bin Isam, Mohd Faizal bin Osman dan Muhammad Ariffin bin Ahmad Rahim.

Dalam perjalanan awalnya, Hijjaz juga diperkuat Allahyarham Mohd Salleh bin Ramli atau lebih dikenal dengan nama Soleh. Kepergian beliau  menjadi kehilangan besar bagi perjalanan group nasyid Hijjaz,untuk mengenang almarhum Hijjaz mengeluarkan satu  nasyid dalam sebuah album Pelita Hidup 2 dengan judu nasyid nya Kau Sahabat Kau Teman.

Namun, kehadiran Ariffin sebagai anggota baharu kemudian melanjutkan perjalanan Hijjaz hingga tetap dikenal sebagai salah satu kumpulan nasyid legendaris Malaysia.

Bagi penggemar di Indonesia, perjalanan tiga dekade Hijjaz bukan hanya tentang popularitas sebuah grup musik, melainkan juga tentang kenangan yang tumbuh bersama lagu-lagu mereka.

Bandung dan Jakarta Menjadi Bagian dari Perjalanan Hijjaz di Indonesia

Popularitas Hijjaz di Indonesia bukan hanya terlihat melalui peredaran album dan penayangan video klip di televisi. Kumpulan ini juga pernah hadir secara langsung menyapa para penggemarnya melalui sejumlah pertunjukan di Indonesia.

Bandung dan Jakarta menjadi bagian dari perjalanan tersebut, khususnya pada era awal hingga pertengahan 2000-an.

Salah satu momen yang masih membekas dalam catatan dan ingatan saya adalah ketika Hijjaz tampil di Lapangan Gasibu, Bandung, sekitar tahun 2002 dengan Tag line Konser Persaudaraan.

Pertunjukan tersebut mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Berdasarkan catatan,riset dan interview saya  dengan Fans Nasyid Hijjaz di beberapa kota  Indonesia yang hadir di konser tersebut, yakni dari  Kupang NTT,Ambon,Papua Bandung,Jakarta,Jawa Tengah ,Makassar Sulawesi Selatan,Gorontalo,Lampung,Palembang yang mana fans Hijjaz dari beberapa kota  tersebut hadir sebagai penonton dan barengan dengan sekitar 5.000 penonton di Kota Bandung Jawa Barat  menyaksikan bersama fans Hijjaz dari seluruh Indonesia menyaksikan penampilan Hijjaz di kawasan yang berada di depan kawasan Gedung Sate Kantor Pemerintahan Gubernur Jawa Barat Indonesia.

Jumlah penonton itu menjadi gambaran bahwa musik nasyid Malaysia ketika itu memiliki daya tarik yang sangat kuat di Indonesia. Hijjaz bukan sekadar dikenal oleh komunitas penggemar nasyid, tetapi juga mampu menghadirkan pertunjukan dengan antusiasme massa yang besar.

Fenomena tersebut juga memperlihatkan bahwa hubungan musikal Indonesia dan Malaysia sudah terjalin erat jauh sebelum hadirnya berbagai platform digital seperti sekarang.

Pada masa itu, penggemar mengenal Hijjaz melalui kaset, VCD, televisi dan pertunjukan langsung. Mereka menghafal lagu, mengoleksi album, mengikuti perkembangan personel dan menantikan kesempatan bertemu langsung dengan grup idolanya.

Karena itulah, bagi saya, perjalanan Hijjaz di Indonesia memiliki nilai sejarah tersendiri dalam perkembangan industri musik religi dan nasyid di Tanah Air.

Tag : No Tag

Berita Terkait