Loading

CUCI TANGAN


Dadan Supardan
6 Bulan lalu, Dibaca : 322 kali

Cuci tangan sangatlah dianjurkan. Tak cukup menjamah air mengalir. Cuci tangan mesti dilengkapi dengan sabun. Alasannya, kandungan senyawa sabun ditengarai akan mengikat molekul air, minyak, juga kuman di tangan secara berbarengan. Aliran air efektif menghalau minyak bersama kuman yang terikat. Caranya juga jangan serampangan. Untuk cuci tangan butuh durasi antara 15-30 detik. Apalagi di saat merebaknya virus corona kini, cuci tangan wajib dilakukan.

Saking pentingnya, Majelis Umum PBB menetapkan tanggal 15 Oktober sebagai Hari Cuci Tangan Sedunia. Pentingnya cuci tangan sendiri sudah lama digaungkan oleh Dr. Ignaz Philipp Semmelweiss. Tepatnya pada 1847. Dokter asal Hungaria tersebut meyakini kebiasaan dokter tidak mencuci tangan kerap menyebabkan infeksi. Dampaknya tak sedikit pasien yang semaput. Maka, konon saat itu dibuatlah prosedur mencuci tangan dan penggunaan larutan chlorinated lime sebagai desinfektan.

Namun tak selamanya cuci tangan patut dilakukan. Lantaran cuci tangan sama saja dengan menguar sikap mental pengecut. Cuci tangan identik dengan memberangus rasa tanggung jawab. Contohnya saat tidak mampu mengangkat harkat dan derajat masyarakat kelas bawah, para pemimpin di semua tingkatan tidak boleh “cuci tangan”.

Contoh satu lagi, ketika kawasan Bandung Utara rusak parah, para pemangku kebijakan tak elok “cuci tangan”. Apalagi saling lempar kesalahan. Sikap tersebut sangat mencabik-cabik perasaan. Karena seharusnya lempar jabatan dan kedudukan.

Yang menarik tampak dalam menyikapi kondisi Sungai Citarum. Di sini semua kekuatan menyatu untuk menangani sungai berlabel terkotor di dunia tersebut. Tak peduli berapa besar anggaran digelontorkan, karena yang terpenting ada semangat bersama untuk tidak “cuci tangan”. Yang ada adalah keguyuban melakukan gerakan “cuci sungai”. ***

Tag : No Tag

Berita lainnya