Penulis: Sanaa Syasikirani
16 Jam lalu, Dibaca : 50 kali
Jembatan Cirahong, Ciamis–Tasikmalaya, tampak dari sisi jalan pada Kamis (15/10/2026). Keberadaan jembatan bersejarah ini perlu diiringi perhatian terhadap pemeliharaan dan keselamatan kawasan. Foto: Dokumentasi keluarga penulis.
Oleh Sanaa Syasikirani
Mahasiswi Prodi Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Jembatan Cirahong yang menghubungkan wilayah Kabupaten
Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya bukan sekadar penghubung antardaerah. Berdiri
sejak 1893, jembatan dengan konstruksi baja ini juga menjadi bagian dari
sejarah dan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Seiring dengan penataan kawasan
yang berlangsung, muncul pertanyaan penting: apakah perbaikan fasilitas saja
sudah cukup untuk menjamin keselamatan orang-orang yang beraktivitas di sana?
Persoalan keselamatan tidak seharusnya hanya menjadi
perhatian ketika suatu kejadian ramai dibicarakan. Keselamatan membutuhkan
pengawasan yang berkelanjutan, koordinasi antarpihak, serta kepedulian
masyarakat. Ketiganya perlu berjalan beriringan agar upaya pencegahan tidak
berhenti pada respons sesaat.
Jawaban warga dan pedagang di sekitar Cirahong menunjukkan
bahwa perhatian terhadap keselamatan memiliki beragam latar belakang. Sebagian
responden mengaku telah memperhatikan persoalan ini sejak lama, sedangkan
sebagian lainnya mulai menaruh perhatian ketika isu tersebut ramai
diperbincangkan. Pengalaman mereka terhadap kondisi kawasan pada siang dan
malam hari pun tidak sepenuhnya sama. Perbedaan ini menunjukkan bahwa rasa aman
dapat dipengaruhi oleh waktu, situasi, dan pengalaman masing-masing orang.
Sejumlah responden menyebut adanya perubahan pada kawasan,
seperti penerangan yang lebih baik dan penataan lingkungan. Keterangan dari
unsur kewilayahan juga menyebutkan keberadaan kamera pengawas, lampu penerangan
jalan umum, serta kegiatan penataan kawasan. Perkembangan tersebut patut
diapresiasi. Namun, keberadaan fasilitas tidak otomatis menjamin keselamatan
apabila pemeliharaan, pemantauan, dan tindak lanjutnya tidak dilakukan secara
konsisten.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah peran petugas di
lapangan. Dalam jawaban yang terkumpul, sejumlah warga dan pedagang menilai
keberadaan penjaga sebelumnya membantu meningkatkan rasa aman. Beberapa unsur
kewilayahan juga menyampaikan penilaian serupa, meskipun ada yang menganggap
kondisi sekarang tetap terkendali berkat perbaikan fasilitas dan upaya
pengawasan lainnya. Perbedaan pandangan ini bukan alasan untuk mengabaikan
persoalan, melainkan bahan evaluasi untuk menentukan bentuk pengawasan yang
paling sesuai dengan kebutuhan kawasan.
Kamera pengawas, misalnya, dapat membantu pemantauan,
tetapi keberadaannya perlu disertai kejelasan mengenai pihak yang memantau dan
langkah yang harus dilakukan ketika ditemukan situasi yang membutuhkan
perhatian. Demikian pula, penerangan dan penataan kawasan perlu diperiksa
secara berkala. Jika diperlukan, penempatan petugas atau pos pengawasan dapat
dipertimbangkan berdasarkan penilaian kebutuhan, pembagian tugas, dan
ketersediaan sumber daya.
Koordinasi juga tidak boleh diabaikan. Keterangan dari
beberapa unsur kewilayahan menunjukkan bahwa komunikasi dengan pihak terkait
dilakukan ketika persoalan muncul, sementara pemahaman mengenai pencatatan
kejadian dan batas tanggung jawab pengelolaan belum sepenuhnya seragam. Karena
itu, pemerintah dan instansi yang berwenang perlu memperjelas pembagian peran,
jalur pelaporan, serta mekanisme tindak lanjut. Masyarakat pun perlu mengetahui
kepada siapa mereka dapat menyampaikan informasi atau kekhawatiran terkait keselamatan.
Pada akhirnya, menjaga Jembatan Cirahong bukan hanya soal
memperbaiki fasilitas atau menata kawasan agar semakin menarik. Nilai sejarah
dan manfaatnya bagi masyarakat perlu berjalan bersama dengan perhatian terhadap
keselamatan. Pemerintah dan pihak terkait harus memastikan pengawasan
berlangsung secara rutin, sedangkan masyarakat dapat berperan dengan menjaga
lingkungan, mematuhi aturan, dan melaporkan kondisi yang memerlukan perhatian.
Mari jadikan keselamatan sebagai komitmen bersama, bukan sekadar
respons ketika suatu persoalan menjadi perhatian publik. Sebab, kawasan yang
tertata dengan baik belum tentu sepenuhnya aman tanpa pengawasan yang
berkelanjutan. Jembatan Cirahong perlu dijaga bukan hanya agar tetap berdiri
dan berfungsi, tetapi juga agar setiap orang yang beraktivitas di sekitarnya
memperoleh perhatian terhadap keselamatannya.
Tag : No Tag
Berita Terkait
Rehat
Tajuk
Memahami Pemikiran Jenderal Dudung Abdurachman
PERLUNYA MENGUBAH CARA PANDANG PEDAGANG DI LOKASI WISAT...
Berita Populer
Arief Putra Musisi Anyar Indonesia
Ketua Umum GRIB H Hercules Rozario Marshal, Saya Bagian Dari Masyarakat Indramayu
Project Fly High Terinspirasi dari Pengalaman Hidup Dr Joe dan Tamak
Dari Kegiatan Aksi Sosial, Hercules Kukuhkan Ketua DPC GRIB JAYA Se-Jawa Barat
Chief Mate Syaiful Rohmaan
SAU7ANA
GMBI Kawal Kasus Dugaan Penipuan PT. Rifan Financindo Berjangka di PN Bandung
Indramayu Diguncang Gempa Magnitudo 4.4, Kedalaman 280 Kilometer
Ivan Lahardika Arranger dan Komposer Indonesia
SAU7ANA Come Back