Penulis: Tatang Sunendar
1 Hari lalu, Dibaca : 214 kali
Oleh Tatang Sunendar
Sudah hampir empat bulan saudara-saudara
kita yang tinggal di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan, papua, dan Sulawesi
merasakan kehidupan yang terganggu akibat asap pekat dari kebakaran hutan dan
lahan (karhutla). Asap yang menyelimuti permukiman bukan sekadar mengganggu
pandangan, melainkan juga menghambat aktivitas masyarakat, mengganggu kegiatan
belajar di sekolah, mengurangi jarak pandang transportasi, serta mengancam
kesehatan manusia.
Dampak asap bahkan dapat melintasi batas
pulau dan wilayah negara. Brunei Darussalam, Singapura, dan Malaysia juga dapat
merasakan dampak kabut asap apabila kondisi angin membawa polutan ke wilayah
mereka. Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa kebakaran hutan dan lahan bukan
semata-mata persoalan lokal, melainkan persoalan lingkungan yang dapat
berdampak luas.
Lantas, muncul pertanyaan mendasar, mengapa kebakaran hutan dan lahan gambut
dapat menghasilkan asap hitam pekat, dan mengapa api di lahan gambut begitu
sulit dipadamkan?
Sebagai seseorang yang berlatar belakang
ilmu kimia, izinkan saya berbagi informasi sederhana mengenai fenomena ini.
Harapannya, pemahaman ilmiah dapat membantu kita melihat karhutla bukan hanya
sebagai bencana alam, tetapi juga sebagai persoalan yang berkaitan dengan sifat
bahan, reaksi kimia, perilaku manusia, dan tanggung jawab menjaga lingkungan.
Mengenal
Gambut dari Perspektif Kimia
Gambut merupakan lapisan bahan organik
yang terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang mengalami penguraian tidak sempurna
selama waktu yang panjang, terutama di lingkungan yang jenuh air dan miskin
oksigen. Karena proses penguraiannya berlangsung lambat, sisa tumbuhan menumpuk
dan membentuk lapisan tanah organik yang dapat mencapai ketebalan cukup besar.
Dari sudut pandang kimia, gambut
mengandung beragam senyawa organik, antara lain selulosa, hemiselulosa, lignin,
serta senyawa humat, termasuk asam humat dan asam fulvat. Bahan-bahan tersebut
tersusun terutama dari unsur karbon, hidrogen, dan oksigen, dengan unsur lain
dalam jumlah yang bervariasi.
Kandungan karbon organik yang tinggi
menjadikan gambut sebagai penyimpan karbon alami yang sangat penting. Akan
tetapi, sifat tersebut juga membuat gambut mudah terbakar ketika mengalami
pengeringan dan memperoleh sumber panas yang cukup.
Dalam kondisi alami, air yang terkandung
di dalam gambut membantu menjaga kelembapan dan membatasi penyebaran api.
Ketika lahan dikeringkan, misalnya melalui pembuatan kanal drainase, permukaan
dan lapisan di bawahnya dapat kehilangan kelembapan. Gambut pun berubah menjadi
bahan bakar yang dapat terbakar, baik di permukaan maupun di bawah tanah.
Di sinilah letak persoalannya. Kebakaran
gambut tidak selalu tampak seperti kebakaran hutan biasa yang memperlihatkan
kobaran api tinggi. Sebagian pembakaran justru berlangsung perlahan di bawah
permukaan tanah, menghasilkan panas dan asap dalam waktu lama.
Mengapa
Asap Karhutla Berwarna Hitam Pekat?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu
memahami proses pembakaran dalam ilmu kimia. Pembakaran merupakan reaksi antara
bahan bakar dan oksigen yang melepaskan energi dalam bentuk panas. Pada
pembakaran yang berlangsung cukup sempurna, karbon dalam bahan bakar terutama
berubah menjadi karbon dioksida (CO?), sedangkan hidrogen membentuk uap air
(H?O).
Namun, pembakaran bahan organik di lahan
gambut sering berlangsung dalam kondisi yang tidak ideal. Pasokan oksigen
terbatas, kelembapan tidak merata, suhu berbeda-beda, dan bahan organik sangat
beragam. Akibatnya, proses pembakaran dapat berlangsung tidak sempurna dan
menghasilkan campuran gas serta partikel yang kompleks.
Salah satu penyebab utama asap tampak
hitam adalah terbentuknya partikel karbon halus, yang sering disebut jelaga
atau soot. Partikel ini menyerap cahaya sehingga asap terlihat gelap. Selain
jelaga, asap kebakaran juga mengandung partikel organik, abu, dan berbagai
senyawa hasil pemanasan serta penguraian bahan organik.
Dengan demikian, warna hitam pekat tidak
disebabkan oleh satu senyawa saja. Warna, ketebalan, dan tingkat bahaya asap
dipengaruhi oleh komposisi partikel, ukuran partikel, konsentrasi polutan,
serta kondisi pembakaran.
Fenomena serupa dapat kita lihat ketika
kayu basah dibakar. Api sering mengeluarkan asap tebal karena panas digunakan
untuk menguapkan air, sementara pembakaran bahan organik tidak berlangsung
secara optimal. Namun, asap kebakaran gambut jauh lebih kompleks karena sumber
bahan bakarnya berupa lapisan organik yang tebal dan dapat membara dalam waktu
lama.
Secara sederhana, pembakaran sempurna
senyawa hidrokarbon dapat digambarkan melalui reaksi berikut: CH? + 2O? ? CO? +
2H?O
Sementara itu, ketika oksigen tidak
mencukupi atau proses pembakaran terganggu, pembakaran dapat menghasilkan
karbon monoksida (CO) dan, dalam kondisi tertentu, karbon padat atau jelaga.
Untuk karbon monoksida, contoh sederhananya adalah: 2CH? + 3O? ? 2CO + 4H?O
Persamaan tersebut merupakan ilustrasi
kimia pembakaran, bukan gambaran lengkap reaksi yang terjadi di lahan gambut.
Dalam kebakaran nyata, terdapat banyak tahapan reaksi dan beragam produk yang
terbentuk secara bersamaan.
Bara
di Dalam Tanah: Mengapa Gambut Sulit Dipadamkan?
Salah satu karakteristik paling berbahaya dari kebakaran gambut adalah kemampuannya untuk membara di bawah permukaan tanah. Lapisan gambut di bagian atas mungkin terlihat kering dan terbakar, sedangkan lapisan yang lebih dalam dapat menyimpan panas dan terus mengalami pembakaran membara.
Pembakaran membara atau smoldering
combustion berbeda dari pembakaran dengan nyala api. Proses ini berlangsung
lebih lambat, tidak selalu menghasilkan nyala yang terlihat, tetapi dapat
bertahan lama selama masih tersedia bahan bakar dan oksigen dalam jumlah yang
memadai.
Struktur gambut yang berpori memungkinkan
oksigen masuk melalui celah-celah tertentu. Panas dari bara dapat merambat ke
bagian lain yang kering, kemudian memicu pembakaran lanjutan. Akibatnya, api
yang tampak sudah padam di permukaan ternyata masih menyala dalam bentuk bara
di bawah tanah.
Ketika bara tersebut tidak benar-benar
dipadamkan, api dapat muncul kembali setelah beberapa waktu, terutama ketika
kondisi cuaca panas dan kering. Inilah sebabnya pemadaman gambut memerlukan
upaya yang lebih rumit dibandingkan dengan memadamkan api yang hanya membakar
vegetasi di permukaan.
Air merupakan unsur penting dalam
pemadaman karena dapat menyerap panas dan membantu menurunkan suhu bahan bakar.
Namun, pembasahan permukaan saja belum tentu cukup jika bara berada jauh di
dalam lapisan gambut. Pemadaman harus disertai identifikasi titik panas,
pembasahan lapisan yang terbakar sesuai kondisi lapangan, serta pemantauan
berulang untuk memastikan api tidak kembali menyala.
Selain itu, pengelolaan tata air gambut
menjadi langkah pencegahan yang sangat penting. Menjaga gambut tetap basah
membantu mengurangi peluang terjadinya kebakaran, meskipun tidak menggantikan
kebutuhan akan pengawasan, penegakan hukum, dan pengelolaan lahan yang
bertanggung jawab.
Produk
Pembakaran Tidak Sempurna dan Karakteristiknya
Dalam kimia, pembakaran tidak sempurna
dapat menghasilkan beberapa zat yang karakteristik dan dampaknya berbeda.
Penting untuk dipahami bahwa tidak semua zat tersebut memiliki warna hitam, dan
tidak semuanya dapat dikenali hanya melalui pengamatan mata.
Karbon monoksida (CO) merupakan gas yang
tidak berwarna dan tidak berbau. Gas ini terbentuk ketika karbon dalam bahan
bakar teroksidasi secara tidak sempurna. Karbon monoksida sangat berbahaya
karena berikatan dengan hemoglobin dalam darah sehingga menghambat pengangkutan
oksigen ke jaringan tubuh. Seseorang dapat mengalami keracunan CO tanpa
menyadari keberadaannya karena gas tersebut tidak memiliki bau khas.
Karbon atau jelaga merupakan partikel
padat yang dapat terbentuk ketika bahan organik mengalami pembakaran tidak
sempurna. Partikel inilah yang berkontribusi terhadap warna hitam pada asap.
Sebagian partikel sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran
pernapasan dan mencapai bagian paru-paru yang lebih dalam.
Senyawa organik volatil (VOC) adalah kelompok senyawa organik yang mudah menguap. Dalam kebakaran vegetasi dan gambut, senyawa ini dapat terbentuk dari pemanasan maupun penguraian bahan organik. Komposisinya beragam; sebagian dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan, sedangkan sebagian lainnya berkontribusi terhadap pembentukan ozon permukaan dan polutan sekunder di atmosfer.
Selain itu, asap karhutla mengandung
partikel halus PM?.?, yakni partikel dengan diameter aerodinamis 2,5 mikrometer
atau lebih kecil. Partikel ini bukan satu senyawa kimia tertentu, melainkan
campuran berbagai bahan, termasuk karbon, senyawa organik, dan komponen
lainnya. Ukurannya yang sangat kecil membuat PM?.? dapat menembus jauh ke dalam
paru-paru.
Asap kebakaran juga dapat mengandung
karbon dioksida, senyawa aldehida, serta berbagai gas dan partikel lain.
Komposisi pastinya bergantung pada jenis bahan yang terbakar, suhu,
ketersediaan oksigen, kelembapan, dan kondisi lingkungan.
Dampak
Asap terhadap Kesehatan Manusia
Asap karhutla bukan sekadar persoalan
jarak pandang atau gangguan aktivitas sehari-hari. Di balik partikel yang
melayang di udara terdapat risiko kesehatan yang perlu mendapat perhatian
serius.
Paparan asap dapat menyebabkan mata perih,
hidung dan tenggorokan terasa kering, batuk, sesak napas, serta memperburuk
penyakit asma dan penyakit paru-paru yang telah diderita seseorang. Partikel
halus PM?.? dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan sebagian komponennya
dapat memengaruhi sistem kardiovaskular.
Kelompok yang perlu memperoleh
perlindungan lebih besar meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang
yang memiliki penyakit jantung atau gangguan pernapasan. Anak-anak menjadi
kelompok yang rentan karena sistem pernapasannya masih berkembang dan mereka
memiliki kebutuhan udara relatif tinggi dibandingkan ukuran tubuhnya.
Karbon monoksida juga perlu diwaspadai
karena dapat mengganggu pengangkutan oksigen dalam darah. Pada paparan tinggi,
keracunan CO dapat menimbulkan sakit kepala, pusing, mual, kebingungan, bahkan
mengancam jiwa.
Oleh sebab itu, ketika kualitas udara
memburuk akibat karhutla, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas berat di
luar ruangan, menggunakan ruang dalam yang lebih terlindungi, serta memantau
informasi kualitas udara dan arahan petugas kesehatan. Masker respirator yang
pas, seperti N95 atau setara, dapat membantu mengurangi paparan partikel halus
apabila digunakan dengan benar, tetapi tidak melindungi dari gas seperti karbon
monoksida.
Apabila mengalami sesak napas berat, nyeri
dada, kebingungan, atau gejala serius lainnya, segera cari pertolongan medis.
Melindungi masyarakat dari asap bukan hanya urusan individu, melainkan juga
tanggung jawab pemerintah, dunia usaha, dan seluruh elemen masyarakat.
Solusi
dan Mitigasi: Pendekatan Kimia dan Lingkungan
Jika kita memahami bahwa kebakaran gambut
berkaitan dengan bahan organik, oksigen, panas, dan kadar air, maka upaya
pencegahannya perlu diarahkan pada pengendalian faktor-faktor tersebut. Prinsip
ilmu kimia dan fisika memberikan landasan untuk memahami mengapa suatu tindakan
dapat berhasil atau justru kurang efektif.
Pertama,
menjaga kelembapan gambut merupakan langkah mendasar. Pengelolaan tata air yang
tepat, termasuk pembasahan kembali lahan gambut yang terdegradasi, dapat
mengurangi kerentanan terhadap kebakaran. Dalam konteks ini, air berfungsi
menyerap panas dan mempertahankan kondisi lingkungan yang tidak mudah terbakar.
Pelaksanaannya harus memperhatikan karakteristik ekosistem setempat agar tidak
menimbulkan masalah lingkungan baru.
Kedua,
pemadaman perlu dilakukan secara menyeluruh. Petugas tidak cukup hanya
memastikan bahwa nyala api di permukaan telah hilang. Titik panas di bawah
permukaan perlu diperiksa dan dipantau menggunakan peralatan yang sesuai,
seperti kamera termal atau pengukuran suhu di lapangan. Air harus diarahkan
secara efektif ke bagian yang masih membara dengan mempertimbangkan kedalaman
dan kondisi gambut. Penanganan semacam ini memerlukan tenaga terlatih,
peralatan yang memadai, dan koordinasi antarpihak.
Ketiga,
deteksi dini perlu diperkuat. Pengamatan kondisi cuaca, pemantauan titik panas
melalui teknologi penginderaan jauh, patroli lapangan, dan pelaporan masyarakat
dapat membantu menemukan potensi kebakaran sebelum meluas. Titik panas dari
satelit perlu diverifikasi karena tidak setiap anomali panas berarti kebakaran
gambut, dan tidak semua kebakaran di bawah permukaan mudah terdeteksi melalui
pengamatan udara.
Keempat,
pencegahan harus dimulai dari tata kelola lahan. Pembukaan lahan dengan cara
membakar meningkatkan risiko kebakaran yang sulit dikendalikan, khususnya saat
musim kering. Karena itu, diperlukan edukasi, dukungan terhadap metode
pembukaan lahan tanpa bakar, pengawasan, serta penegakan hukum yang konsisten
terhadap pembakaran ilegal.
Kelima,
masyarakat terdampak harus memperoleh perlindungan kesehatan yang memadai.
Penyediaan informasi kualitas udara, ruang yang lebih bersih dari asap, layanan
kesehatan, serta dukungan bagi sekolah dan kelompok rentan perlu menjadi bagian
dari respons bencana. Penanganan karhutla tidak boleh berhenti pada upaya
memadamkan api, tetapi harus mencakup pemulihan ekosistem dan perlindungan
masyarakat.
Dari perspektif kimia, kita belajar bahwa
mengendalikan pembakaran berarti memahami sumber bahan bakar, pasokan oksigen,
suhu, dan kondisi lingkungan. Namun, ilmu pengetahuan saja tidak cukup apabila
tidak disertai komitmen untuk menjaga alam, tata kelola yang baik, serta
tanggung jawab semua pihak.
Peran
Guru Kimia: Menghubungkan Reaksi Kimia dengan Kehidupan
Peristiwa karhutla memberikan pelajaran
berharga bagi dunia pendidikan, khususnya bagi guru kimia. Materi pembakaran,
reaksi oksidasi, hidrokarbon, pencemaran udara, dan perubahan materi tidak
seharusnya berhenti sebagai rumus di papan tulis atau soal dalam buku
pelajaran. Konsep-konsep tersebut dapat dihubungkan dengan persoalan nyata yang
dihadapi masyarakat.
Guru kimia dapat menjelaskan perbedaan
pembakaran sempurna dan tidak sempurna melalui contoh yang dekat dengan
kehidupan siswa. Ketika bahan bakar kendaraan bermotor dibakar, misalnya,
pembakaran yang tidak ideal dapat menghasilkan karbon monoksida, hidrokarbon
yang tidak terbakar sempurna, dan partikel. Mesin yang terawat dengan baik
serta sistem pengendalian emisi yang berfungsi dapat membantu mengurangi
polusi, meskipun tidak menjamin emisi menjadi nol.
Demikian pula, asap pekat dari tungku
dapur yang menggunakan kayu atau biomassa dapat menjadi bahan pembelajaran.
Pembakaran bahan bakar padat yang tidak efisien, terutama dalam ruang dengan
ventilasi buruk, dapat menghasilkan partikel halus dan karbon monoksida yang
membahayakan penghuni rumah. Karena itu, pemilihan teknologi memasak yang lebih
bersih dan ventilasi yang memadai merupakan bagian penting dari perlindungan
kesehatan.
Melalui pembelajaran berbasis masalah,
guru dapat mengajak siswa menyelidiki pertanyaan sederhana: Mengapa api dengan
pasokan oksigen cukup cenderung menghasilkan pembakaran lebih sempurna? Mengapa
asap kendaraan dapat mengandung zat berbahaya? Mengapa asap dari pembakaran
sampah tidak boleh dianggap sepele? Dan mengapa lahan gambut yang kering lebih
mudah terbakar daripada gambut yang terjaga kelembapannya?
Siswa dapat melakukan pengamatan yang
aman, menganalisis data kualitas udara, mempelajari informasi tentang PM?.?,
atau membuat kampanye pencegahan pembakaran sampah dan kebakaran lahan.
Kegiatan tersebut dapat melatih literasi sains, kemampuan berpikir kritis, dan
kepedulian terhadap lingkungan.
Tentu saja, demonstrasi pembakaran tidak
boleh dilakukan secara sembarangan. Guru perlu menghindari kegiatan yang
membuat siswa menghirup asap atau terpapar gas berbahaya. Penjelasan dapat
menggunakan simulasi, data pengukuran, video, atau percobaan terkontrol yang
memenuhi standar keselamatan.
Dengan demikian, guru kimia bukan hanya
mengajarkan bagaimana reaksi berlangsung, tetapi juga membantu siswa memahami
konsekuensi dari reaksi tersebut terhadap kehidupan. Inilah esensi pendidikan
sains yang bermakna: ilmu pengetahuan digunakan untuk membaca persoalan,
mengambil keputusan yang bertanggung jawab, dan membangun perilaku yang lebih
baik.
Menjaga Gambut, Menjaga Kehidupan
Asap hitam pekat dari karhutla
mengingatkan kita bahwa alam memiliki mekanisme yang saling berkaitan. Gambut
yang semestinya menjadi penyimpan karbon dan penyangga ekosistem dapat berubah
menjadi sumber bencana ketika kehilangan kelembapan dan terbakar. Pembakaran
yang tidak sempurna menghasilkan campuran polutan yang dapat mengganggu
kesehatan manusia, sementara bara di bawah permukaan membuat kebakaran gambut
sulit dipadamkan.
Dari sudut pandang ilmu kimia, kita
memahami bahwa asap bukan sekadar warna yang mengganggu pandangan. Di dalamnya
terdapat partikel dan gas dengan sifat serta risiko yang berbeda-beda.
Pemahaman ini semestinya mendorong kita untuk lebih bijaksana dalam mengelola
lahan, mengurangi sumber polusi, memperkuat pencegahan, dan melindungi
masyarakat yang terdampak.
Namun, di atas semua penjelasan ilmiah
tersebut, ada nilai kemanusiaan yang tidak boleh kita lupakan. Saudara-saudara
kita yang terdampak karhutla membutuhkan lebih dari sekadar simpati. Mereka
memerlukan tindakan nyata, pertolongan kesehatan, lingkungan yang kembali
bersih, dan jaminan agar bencana serupa tidak terus berulang.
Mari kita doakan saudara-saudara kita di
Sumatra, Kalimantan, dan wilayah lain yang terdampak karhutla agar senantiasa
diberikan kesehatan, kekuatan, dan keselamatan. Semoga para petugas yang
berjuang memadamkan api diberi perlindungan dan kelancaran dalam menjalankan
tugasnya. Menjaga gambut berarti menjaga udara. Menjaga udara berarti menjaga
kesehatan. Dan menjaga lingkungan berarti menjaga masa depan generasi
mendatang. Semoga asap hitam yang menyelimuti saudara-saudara kita segera
berlalu, berganti dengan udara bersih, langit cerah, dan kehidupan yang kembali
normal.
Karena itu, asap yang tampak pekat
seharusnya menjadi peringatan untuk meningkatkan kewaspadaan. Akan tetapi, asap
yang terlihat tipis atau bahkan tidak terlihat pun belum tentu aman, sebab
beberapa polutan berbahaya tidak berwarna dan tidak berbau…………….. Wallahu A'lam
Bishawab
Tag : No Tag
Berita Terkait
Rehat
Tajuk
Memahami Pemikiran Jenderal Dudung Abdurachman
PERLUNYA MENGUBAH CARA PANDANG PEDAGANG DI LOKASI WISAT...
Berita Populer
Arief Putra Musisi Anyar Indonesia
Ketua Umum GRIB H Hercules Rozario Marshal, Saya Bagian Dari Masyarakat Indramayu
Project Fly High Terinspirasi dari Pengalaman Hidup Dr Joe dan Tamak
Dari Kegiatan Aksi Sosial, Hercules Kukuhkan Ketua DPC GRIB JAYA Se-Jawa Barat
Chief Mate Syaiful Rohmaan
SAU7ANA
GMBI Kawal Kasus Dugaan Penipuan PT. Rifan Financindo Berjangka di PN Bandung
Indramayu Diguncang Gempa Magnitudo 4.4, Kedalaman 280 Kilometer
Ivan Lahardika Arranger dan Komposer Indonesia
SAU7ANA Come Back