Loading

TANGKAS, BELAJAR PENJUMLAHAN LEBIH MENYENANGKAN MELALUI PERMAINAN TANGGA NUMERASI DI SDN SALAWANGI III


Editor: Idris Apandi
22 Jam lalu, Dibaca : 70 kali


Ilustrasi

 “Mengubah halaman sekolah menjadi ruang belajar yang aktif, konkret, dan bermakna bagi murid kelas I”

 

Editor: Idris Apandi, Widyaprada Ahli Madya BBPMP Provinsi Jawa Barat, Fasilitator Nasional Literasi dan Numerasi Kemendikdasmen

 

Bagi sebagian murid kelas I sekolah dasar, penjumlahan bukanlah perkara sederhana. Ketika berhadapan dengan angka dan simbol matematika, mereka mungkin mampu menyebutkan bilangan secara berurutan, tetapi belum tentu memahami makna penjumlahan sebagai proses menggabungkan atau menambah jumlah benda. Ada murid yang dapat menghafal hasil penjumlahan, tetapi masih kebingungan ketika diminta menjelaskan bagaimana jawaban tersebut diperoleh.

Situasi seperti ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru kelas awal. Pada tahap ini, pembelajaran matematika tidak cukup hanya mengandalkan penjelasan lisan, tulisan di papan tulis, atau lembar latihan. Murid membutuhkan pengalaman belajar yang memungkinkan mereka melihat, menyentuh, bergerak, mencoba, dan menemukan hubungan antara angka dengan aktivitas nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Capaian Pembelajaran Fase A yang fokus dilaksanakan pada Kelas I sekolah dasar yaitu: memahami bilangan cacah sampai dengan 100, termasuk membaca, menulis, membandingkan, mengurutkan, menyusun, dan mengurai bilangan. Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan cacah sampai dengan 20 menggunakan benda konkret. Memahami pecahan sederhana, yaitu setengah dan seperempat.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Lusi Rosma Hidayah, S.Pd., guru kelas I SDN Salawangi III, Kecamatan Bantarujeg, Kabupaten Majalengka, mengembangkan sebuah kegiatan pembelajaran numerasi yang menarik melalui media TANGKAS, singkatan dari Tangga Penjumlahan Anak Kelas Satu.

Program yang dilaksanakan pada Oktober 2026 ini memanfaatkan media permainan ular tangga yang tersedia di halaman sekolah. Melalui media sederhana tersebut, murid diajak mempelajari penjumlahan dengan cara yang lebih konkret, aktif, dan menyenangkan. Halaman sekolah tidak lagi sekadar menjadi tempat bermain atau beristirahat, tetapi juga berubah menjadi ruang belajar matematika yang memungkinkan murid mengalami sendiri proses penjumlahan.

Berawal dari Kebutuhan Murid

Pembelajaran numerasi di kelas awal memiliki peran penting dalam membangun fondasi kemampuan matematika. Pemahaman terhadap bilangan dan operasi hitung dasar akan membantu murid mempelajari konsep matematika yang lebih kompleks pada tahap berikutnya.

Namun, setiap murid memiliki kesiapan belajar yang berbeda. Ada murid yang cepat memahami konsep melalui penjelasan guru, sedangkan murid lainnya membutuhkan alat bantu visual, benda konkret, atau kegiatan yang melibatkan gerakan tubuh. Perbedaan ini perlu direspons dengan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Dalam pembelajaran penjumlahan, misalnya, guru dapat menjelaskan bahwa tiga ditambah dua sama dengan lima. Akan tetapi, bagi murid yang masih berada pada tahap awal memahami bilangan, kalimat matematika tersebut mungkin terasa abstrak. Mereka perlu mengalami bahwa ketika berada pada angka tiga, kemudian bergerak maju dua langkah, mereka akan sampai pada angka lima. Pengalaman konkret seperti itulah yang menjadi salah satu dasar pelaksanaan TANGKAS (Tangga Penjumlahan Anak Kelas Satu).


Gambar 1. Media Peningkatan kemampuan numerasi TANGKAS (Tangga Penjumlahan Anak Kelas Satu) di SDN Salawangi III. (Dok. SDN Salawangi III, 2026)

 

Melalui permainan ular tangga, angka tidak hanya dilihat sebagai simbol di atas kertas. Angka menjadi bagian dari pengalaman belajar yang dapat diamati dan dilakukan secara langsung. Murid menghubungkan bilangan awal, jumlah langkah yang ditempuh, dan posisi akhir sebagai gambaran proses penjumlahan. Pendekatan ini juga memberikan kesempatan kepada guru untuk mengamati proses berpikir murid, bukan sekadar memeriksa benar atau salahnya jawaban akhir.

Menjadikan Halaman Sekolah sebagai Laboratorium Numerasi

Salah satu hal menarik dari TANGKAS adalah pemanfaatan media yang sederhana dan dekat dengan kehidupan murid. Guru tidak harus selalu menggunakan perangkat digital atau alat peraga yang mahal untuk menciptakan pembelajaran yang berkualitas. Dengan perencanaan yang tepat, fasilitas yang tersedia di sekolah pun dapat menjadi sarana belajar yang efektif.

Sebelum kegiatan dimulai, guru menentukan tujuan pembelajaran, menyiapkan soal penjumlahan sederhana, dadu, kartu angka atau kartu soal, lembar kerja, serta instrumen observasi. Guru juga melakukan pemetaan kemampuan awal melalui tanya jawab atau soal singkat.

Langkah persiapan ini penting agar kegiatan bermain tetap berorientasi pada tujuan pembelajaran. Permainan bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu, melainkan sarana bagi murid untuk membangun pemahaman konsep matematika.

Pada awal pembelajaran, guru mengajak murid menghitung benda atau angka yang sudah dikenal dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan apersepsi ini membantu menghubungkan pengalaman yang telah dimiliki murid dengan materi yang akan dipelajari.

Selanjutnya, guru memperkenalkan aturan permainan dan mendemonstrasikan cara menggunakan tangga penjumlahan. Murid diperlihatkan bagaimana menentukan angka awal, menghitung jumlah langkah, dan menemukan angka akhir.

Setelah mendapatkan contoh, murid mulai mencoba secara bergiliran. Mereka melempar dadu untuk menentukan banyaknya langkah, memperhatikan angka tempat mereka berdiri, kemudian mengikuti soal atau instruksi penjumlahan dari guru.

Sebagai contoh, seorang murid memulai dari angka tiga dan mendapatkan soal penjumlahan tiga ditambah dua. Murid tersebut kemudian bergerak dua langkah ke depan sambil menghitung setiap langkah. Ketika sampai pada angka lima, guru mengajak murid menjelaskan hubungan antara angka awal, jumlah langkah, dan hasil penjumlahan. Melalui kegiatan tersebut, murid tidak hanya memperoleh jawaban, tetapi juga belajar memahami proses yang menghasilkan jawaban itu.

Bermain, Berpikir, dan Berkomunikasi

TANGKAS memberikan ruang bagi murid untuk belajar melalui aktivitas fisik sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir dan berkomunikasi. Ketika melangkah pada petak angka, murid belajar menghubungkan simbol matematika dengan tindakan nyata. Ketika menghitung langkah, mereka berlatih mengenali urutan bilangan. Ketika menjawab pertanyaan guru, mereka belajar mengungkapkan hasil pemikirannya.

Guru mengajukan pertanyaan sederhana, seperti, "Kamu mulai dari angka berapa?", "Berapa langkah yang harus kamu maju?", dan "Sekarang kamu berada di angka berapa?"


Gambar 2. Guru memberikan instruksi kepada murid sebelum melaksanakan permainan ular tangga melalui media TANGKAS. (Dok. SDN Salawangi III, 2026)

 

Pertanyaan tersebut membantu murid menelusuri kembali proses penyelesaian soal. Jika jawaban mereka belum tepat, guru dapat memberikan petunjuk atau mengajak mereka menghitung ulang, bukan langsung menyampaikan jawaban yang benar.

Setelah praktik terbimbing, murid memperoleh kesempatan bermain secara mandiri atau berpasangan dalam kelompok. Mereka bergiliran melempar dadu, mengikuti instruksi, menyelesaikan soal, dan menjelaskan hasilnya. Dengan pendampingan guru, aktivitas ini juga dapat melatih keberanian, kemandirian, kerja sama, serta sikap saling menghargai.

Di sinilah pembelajaran numerasi bertemu dengan penguatan literasi dasar. Murid berlatih membaca angka, mengenali simbol tambah (+) dan sama dengan (=), menyimak instruksi, serta menyampaikan penjelasan secara lisan. Mereka belajar bahwa matematika bukan hanya tentang menghitung, melainkan juga memahami informasi dan mengomunikasikan cara berpikir.

Agar pengalaman belajar benar-benar bermakna, guru perlu memastikan bahwa setiap murid memperoleh kesempatan untuk mencoba. Murid yang masih ragu tidak boleh hanya menjadi penonton ketika teman-temannya bermain. Sebaliknya, mereka perlu mendapatkan dukungan agar berani mengambil bagian dalam kegiatan.

Menghadapi Tantangan dengan Pendampingan

Pelaksanaan pembelajaran yang aktif tentu tidak terlepas dari tantangan. Perbedaan kemampuan awal membuat sebagian murid lebih cepat memahami aturan permainan, sementara murid lainnya masih memerlukan bantuan. Ada pula murid yang mungkin tertukar ketika menghitung langkah, kehilangan konsentrasi, atau mampu menyebutkan hasil tetapi belum memahami hubungan antara angka awal dan penambahan. Guru perlu memandang kondisi tersebut sebagai informasi untuk memperbaiki pembelajaran, bukan semata-mata sebagai kelemahan murid.

Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah menyederhanakan bilangan dan jumlah langkah pada tahap awal. Guru memberikan contoh secara bertahap, mengulang demonstrasi jika diperlukan, serta menyediakan petunjuk visual bagi murid yang masih mengalami kesulitan.

Pendampingan individual juga dapat diberikan kepada murid yang membutuhkan bantuan lebih intensif. Sementara itu, murid yang telah memahami konsep dapat memperoleh soal pengayaan dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi sesuai kesiapan belajarnya.

Pengaturan giliran dan aturan penggunaan media juga penting agar kegiatan berlangsung aman, tertib, dan memberikan kesempatan belajar yang adil. Dengan demikian, suasana menyenangkan tetap berjalan seiring dengan ketercapaian tujuan pembelajaran.

Mengukur Kemajuan, Bukan Sekadar Meramaikan Kegiatan

Pembelajaran yang menyenangkan perlu disertai evaluasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan murid. Keberhasilan TANGKAS tidak cukup dinilai dari antusiasme mereka ketika bermain. Guru juga perlu melihat apakah kegiatan tersebut membantu murid memahami konsep penjumlahan dengan lebih baik.

Pengamatan dilakukan terhadap beberapa aspek, antara lain ketepatan menghitung, kemampuan mengikuti instruksi, pemahaman hubungan antara bilangan awal dan jumlah penambahan, partisipasi dalam kegiatan, serta keberanian menjelaskan jawaban.

Hasil pengamatan kemudian digunakan untuk menentukan tindak lanjut. Murid yang telah mencapai tujuan pembelajaran dapat diberikan tantangan baru, sedangkan murid yang belum menguasai konsep memperoleh latihan tambahan dan pendampingan.

Jumlah murid kelas I yang mempraktikkan TANGKAS sebanyak 18 orang. Jumlah murid yang mencapai kriteria keberhasilan pada asesmen awal sebanyak 6 orang (33%), setelah dilakukan asesmen sumatif jumlah murid yang mencapai kriteria keberhasilan kegiatan sebanyak 17 orang (94%). Sedangkan 1 orang murid yang belum mencapai kompetensi minimum diberikan pendampingan dan pembimbingan khusus (waktu tambahan) oleh guru.


Gambar 3. Daftar nilai murid asesmen akhir kelas I SDN Salawangi III. (Dok. SDN Salawangi III, 2026)



Gambar 4. Grafik hasil asesmen murid kelas I SDN Salawangi III. (Gambar oleh AI).

 

Dari Praktik Baik Menuju Budaya Numerasi Sekolah

TANGKAS menunjukkan bahwa penguatan numerasi dapat dimulai dari langkah sederhana. Guru tidak harus menunggu tersedianya fasilitas yang lengkap untuk menciptakan pembelajaran yang aktif. Halaman sekolah, permainan ular tangga, dadu, dan kartu soal dapat menjadi sarana untuk membantu murid membangun pemahaman matematika apabila digunakan dengan tujuan dan strategi yang tepat.

Meski demikian, keberhasilan program perlu dijaga melalui pelaksanaan yang berkelanjutan. Latihan penjumlahan sebaiknya dilakukan secara rutin dan bertahap. Hasil asesmen awal dan akhir perlu dicatat serta dibandingkan. Guru juga perlu mendokumentasikan proses pembelajaran, merefleksikan tantangan, dan menyesuaikan strategi berdasarkan kebutuhan murid.


Gambar 5. Murid mempraktikkan permainan numerasi melalui media TANGKAS. (Dok. SDN Salawangi III, 2026).

 

Video peningkatan kemampuan numerasi murid kelas I SDN Salawangi III melalui media TANGKAS dapat dilihat pada link berikut ini: https://shorturl.at/0J53M. Selain menggunakan permainan TANGKAS dalam meningkatkan kemampuan numerasi, guru juga mengoptimalkan memanfaatkan Papan Interaktif Digital (PID). Misalnya, melalui permainan tarik tambang dengan menggunakan PID.

 Sebagai bahan inspirasi, tindaklanjutnya, pengalaman meningkatkan kemampuan numerasi murid melalui media permainan TANGKAS rencananya akan dibagikan melalui komunitas belajar atau Kelompok Kerja Guru (KKG). Pada forum tersebut, guru lain dapat mempelajari proses pelaksanaannya, mengadaptasi media yang tersedia di sekolah masing-masing, dan mengembangkan variasi permainan untuk materi numerasi lainnya.

Bagi sekolah, kegiatan ini dapat menjadi bagian dari upaya membangun budaya pembelajaran yang berpihak pada murid. Numerasi tidak hanya menjadi tanggung jawab guru matematika atau kegiatan yang dilakukan ketika murid mengerjakan soal di kelas. Numerasi dapat hadir dalam berbagai pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

TANGKAS mengingatkan kita bahwa pembelajaran bermakna tidak selalu lahir dari sesuatu yang rumit. Terkadang, perubahan dimulai ketika guru berani melihat lingkungan sekitar dengan cara berbeda, memahami kebutuhan murid, lalu merancang pengalaman belajar yang sesuai dengan tahap perkembangan mereka.

Ketika angka menjadi sesuatu yang dapat dilihat, dihitung, dan dialami secara langsung, matematika terasa lebih dekat dengan dunia anak. Ketika murid diberi kesempatan untuk mencoba, melakukan kesalahan, memperbaiki jawaban, dan menjelaskan pemikirannya, mereka tidak hanya belajar memperoleh hasil, tetapi juga belajar memahami proses.

Dari permainan ular tangga di halaman sekolah, tumbuh sebuah harapan: murid kelas awal semakin percaya diri menghadapi matematika, guru semakin kreatif merancang pembelajaran, dan sekolah semakin konsisten membangun fondasi literasi serta numerasi.

Sebab, menguatkan numerasi bukan sekadar membuat murid pandai berhitung, melainkan membantu mereka memahami bilangan, berpikir logis, dan menggunakan pengetahuan matematika untuk menghadapi kehidupan sehari-hari.

 

 

Tag : No Tag

Berita Terkait