Penulis: Hendry Ch Bangun
2 Hari lalu, Dibaca : 30 kali
Catatan
Jurnalistik Hendry Ch Bangun
Setelah berjalan
kaki sambil mencari udara segar di sekitar rumah selama 45 menit, disusul
olahraga indoor 8 gerakan sekitar 15 menit, saya duduk di teras rumah. Di balik
pagar ada pohon mangga berumur sekitar 6 tahun, dengan bunga-bunga calon buah
yang subur. Ada sekitar 20 klaster bunga dari berbagai ranting, mencuat di
antara rimbun daun yang hijau. Kalau jadi, maka ratusan buah mangga bisa
dipetik dua tiga bulan lagi meski biasanya hanya sebagian yang jadi karena
gugur dalam proses pembuahan.
Perasaan saya
masih agak galau. Akhir pekan lalu, dengan wajah sumringah saya menyampaikan ke
istri, adanya 6 biji mangga yang besarnya sudah sekitar 8-10 cm tersembul di
balik dedaunan. Tersembunyi di belakang dua putik mangga kecil, sebesar
kelereng, dan selama ini saya tidak lihat. Padahal hampir setiap sore, saya
naik ke teras atas untuk menutup pintu,
menghidupkan lampu dan sering pula menyiram pot bunga di tepi pagar bila anak
lupa menjalankan tugasnya.
Melihat 6 mangga
muda itu saya memanggil istri, menyampaikan kabar gembira. Iya kabar baik
karena mangga cangkokan yang kami beli di salah satu kios di Graha Raya Bintaro
ini, baru sekali memberi kami buah. Dua tahun lalu, mangga Thailand yang besar
sekitar 25 cm panjangnya dan gemuk. Rasanya manis dan lezat. Ya, hanya satu
karena ada yang mencurinya sebelum matang. Maklum pohon itu ada di luar pagar
dan dengan sedikit usaha, mudah saja diambil siapapun yang lewat karena
menjuntai hanya sekitar 3 meter dari tanah.
Tetapi kegembiraan
itu hanya berusia 4 hari. Suatu sore saya menemukan “bangkainya” di luar pintu
pagar. Satu mangga muda sekitar 10 cm tergeletak. Ada sedikit goresan, tetapi
masih utuh. Penasaran saya segera naik ke teras atas untuk mengecek, ternyata sudah
tidak ada rangkaian 6 mangga itu. Besok paginya saya ajak istri untuk
mencarinya di antara daun-daun, siapa tahu mata saya silap, tidak ada. Tak lama
saya ajak anak untuk menengoknya. Mata muda,
lebih awas, tetap tidak ada. Hilang sudah harapan. Terpaksa kami
menunggu lebih lama untuk dapat menikmati mangga Thailand yang matang. Kalau
Allah izinkan tentu saja.
Saya termasuk suka
menanam, terutama buah-buahan. Di rumah orangtua di Padang Bulan, Medan, ada
pohon mangga golek yang saya tanam dan masih hidup. Sekitar tahun 1967 ketika
ayah saya datang dari Jakarta dia membawa oleh-oleh mangga dan saya tanam di
samping sumur. Ternyata tumbuh subur dan berbuah lebat. Enak dimakan.
Di rumah lama saya
Kampung Sawah Ciputat, ada berbagai buah. Pernah ada pohon sawo kecil berbuah
banyak sehingga kalau ada saudara yang datang, mereka bisa memetik sampai
setengah ember untuk dibawa pulang. Namun terpaksa ditebang karena sering
dimakan kelelawar dan air liurnya dimuntahkan ke tembok tetangga, bahkan ke
mobil parkir yang di tepi jalan.
Ada pula pohon
kakao yang bibitnya saya bawa dari kebun kakak sepupu di dekat Sunggal. Buahnya
besar dan banyak, tetapi sering diambil anak tetangga karena konon enak dimakan
seperti pepaya. Ada pohon mangga, tumbuh tinggi dan besar, tetapi buahnya jarang
malahan kalah dengan tanaman parasite sehingga akhirnya ditebang. Ada pohon
salam, belimbing, dan banyak lagi. Di depan rumah sekarang ada pula pohon
bintaro, dan mangga yang baru setinggi 3 meter. Ada pula papaya, belimbing.*
Hobi menanam ini
mencuat dalam diri saya setelah saya mendengar kutbah dalam sebuah salat Jumat
di Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, pada bulan Agustus 1991,
bersama wartawan Antara waktu itu Bahran Asmawi. Ya 34 tahun silam saya diajak mengunjungi
ruang kerjanya dan ruang kerja wartawan Kompas Threes Nio, dan karena
bertepatan hari Jumat, kami salat berjamaah di salah satu ruangan besar. Saya
sendiri ke New York untuk meliput kiprah petenis Indonesia Yayuk Basuki, yang
akhirnya gugur di babak ketiga di tangan Monica Seles di babak ketiga turnamen
grandslam AS Terbuka yang berlangsung di minggu kedua Agustus.
“Walaupun besok
datang kiamat, kalau di tanganmu ada sebuah bibit, tanamlah,” ujar khatib,
mengutip hadis (HR Bukhari & Ahmad) yang selengkapnya berbunyi, “Jika
terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah
tunas, maka jika dia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka
tanamlah.”
Hadis ini ingin
menyampaikan selama masih ada nafas, tanamlah kebaikan, bahkan mungkin sampai
helaan nafas terakhir. Dan pohon adalah bukti dari kebaikan itu sendiri. Pohon
itu sesuatu yang bermanfaat banyak bagi manusia, ia menghasilkan buah,
menghijaukan tanah yang gersang, mengeluarkan oksigen yang membersihkan udara,
dll.
Saya menjadi lebih
terinspirasi menjalankan imbaun itu karena di Indonesia mudah sekali
melakukannya seperti kata lagu Koes Plus, tongkat kayu saja dilempar kelak akan
jadi tanaman. Kita bisa menyaksikan di hutan kecil maupun besar, buah-buah yang
jatuh atau dibawa burung, atau diterbangkan angin, tumbuh begitu saja. Bisa
saja di tembok kita tumbuh tanaman atau pohon kecil, bukan sekadar lumut atau
tanaman parasit.
Sambil berolahraga
jalan lagi, saya kerap menemukan bibi pohon liar di pinggir jalan, saya pungut
dan tanam. Seperti pohon mangga dan pohon bintaro, atau pohon alpukat. Siram
beberapa kali nanti tokh dia akan tumbuh sendiri, menjadi amal kebaikan yang berumur
panjang. Bahkan ketika kita sudah tidak ada, sejauh pohon itu masih tumbuh,
pahalanya masih mengalir. *
Menanam kebaikan
melalui pohon ini sebenarnya sejalan dengan profesi wartawan, hanya saja yang
dia tanam adalah berita yang diproduksinya, yang kemudian dibaca atau dinikmati
pembaca atau pemirsa atau audiens. Berita yang bermutu, mencerahkan, memotivasi,
melahirkan inspirasi sama seperti pohon berbuah banyak, berdaun lebat, dan
meruapkan oksigen. Berita seperti ini hanya bisa lahir apabila dimulai dengan
niat baik, perencanaan matang, pengumpulan data dan fakta yang standar,
narasumber yang kompeten, ditulis dengan kata dan kalimat pas, dan sesuai
dengan kode etik jurnalistik.
Memiliki kosa kata
banyak, merupakan salah satu modal wartawan, dan artinya harus banyak membaca,
buku, atau artikel, atau apapun. Beruntung di zaman awal kewartawanan kami
masih harus menerjemahkan berita yang datang via teleks seperti AFP, Reuters.
Di meja pimpinan masih ada koran terbitan luar negeri sehingga mengetahui dan
mengenal kualitas tulisan wartawan professional dari manca negara. Bisa ditiru
pemilihan diksi dan gaya bahasa mereka dan lama-lama apa yang dibaca itu sudah
tertanam di kepala itu akan membentuk karakter diri dan membentuk ciri khas
sendiri.
Saya ingat, Bob
Hasan ketika menjadi Ketua Umum PB PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia)
sering mengatakan, wartawan jangan hanya
mencari-cari kesalahan atlet karena pada masa itu, media cetak umumnya
selalu kejam memberitakan capaian atlet Indonesia. “Indonesia gagal meraih
medali emas,” begitu misalnya ditulis
kalau tim kita meraih medali perak setelah mengalahkan sejumlah lawan. Padahal
di koran The Straits Times, atlet Singapura yang merebut perunggu ditulis dengan pujian dan memberi rasa bangga
pada si atlet. Ya setiap prestasi harus dihargai, seberapapun pencapaiannya.
Tetapi itu
tidak membuatheran karena kita hidup di
masyarakat yang punya pepatah,”Sudah jatuh tertimpa tangga. Pengorbanan dan
kerja keras kurang dihargai. Seseorang
dapat menjadi korban dua kali. Itu sebabnya Dewan Pers menyusun antara lain
Pedoman Pemberitaan Ramah Anak, Pedoman Pemberitaan Ramah Disabilitas, Pedoman
Pemberitaan Terkait Upaya Bunuh Diri. Tujuannya adalah agar media membuat
pemberitaan yang berempati, khususnya bagi mereka yang menjadi korban atau
menghadapi sesuatu, atau trauma atas kejadian tertentu. *
Dengan niat bahwa
membuat berita adalah menanam kebaikan, bukan berarti media tidak boleh
menyampaikan kritik, menghilangkan fungsinya untuk melakukan kontrol sosial
sebagai pilar keempat demokrasi. Media harus tetap bersikap kritis atas sesuatu
yang berkaitan dengan kepentingan publik, khususnya penyelenggaraan negara.
Hanya saja sudut pandang dan diksi yang dipakai, telah melalui pilihan yang
dewasa dan bijaksana.
Ada pemimpin yang
tidak suka ditunjuk hidung, dipermalukan, disudutkan, ya gunakanlah cara yang
sesuai dengan kondisi sosiologis masyarakat. Dibutuhkan jam terbang tinggi dan
kecerdasan emosial untuk matang sebagai wartawan dan menghasilan tulisan bagus yang
tidak membuat tokoh atau pejabat cemberut. Saya tersenyum geli misalnya ketika
melihat ada media yang membuat artikel tentang mantan Presiden Afrika Selatan,
Jacob Zuma, yang konon kalau pidato kerap salah bicara angka, salah sebut, dan
suka joget-joget di panggung. Orang tidak kompeten kok bisa jadi presiden? Ya
bisa terpilih, karena direstui pendahulunya. Tidak perlu pintar untuk
mengetahui apa pesan yang ingin disampaikan dari artikel itu.
Ya wartawan tidak
boleh bosan belajar, dengan banyak membaca, berbicara dengan orang pintar dan
bijak, dan tentu saja memahami esensi kehidupan bernegara dan bertanah air.
Kalau sudah begini nanti profesi kewartawanan kita tidak lagi sekadar menjadi
penyampai informasi, tetap penyebar kebaikan bagi umat manusia.
Wallahu a’lam
bhisawab,
Ciputat 23 Agustus
2026
Tag : No Tag
Berita Terkait
Rehat
Tajuk
Memahami Pemikiran Jenderal Dudung Abdurachman
PERLUNYA MENGUBAH CARA PANDANG PEDAGANG DI LOKASI WISAT...
Berita Populer
Arief Putra Musisi Anyar Indonesia
Ketua Umum GRIB H Hercules Rozario Marshal, Saya Bagian Dari Masyarakat Indramayu
Project Fly High Terinspirasi dari Pengalaman Hidup Dr Joe dan Tamak
Dari Kegiatan Aksi Sosial, Hercules Kukuhkan Ketua DPC GRIB JAYA Se-Jawa Barat
Chief Mate Syaiful Rohmaan
SAU7ANA
GMBI Kawal Kasus Dugaan Penipuan PT. Rifan Financindo Berjangka di PN Bandung
Indramayu Diguncang Gempa Magnitudo 4.4, Kedalaman 280 Kilometer
Ivan Lahardika Arranger dan Komposer Indonesia
SAU7ANA Come Back