Penulis: Maman Taryadi
17 Jam lalu, Dibaca : 51 kali
Oleh Maman Taryadi
Pegiat Literasi
SMKN 1 Bojongpicung
Dalam diskursus
keislaman dan kebudayaan di Indonesia, kita sering kali mendengar dua kata yang
berakar dari sumber yang sama namun memiliki dimensi makna yang sangat berbeda:
"Santri" dan "Nyantri". sekilas, keduanya tampak seperti sinonim
yang hanya berbeda pada imbuhan. Namun, jika dibedah secara filosofis,
sosiologis, dan spiritual, terdapat jurang pemisah yang sangat dalam di antara
keduanya. "Santri" adalah kata benda, sebuah label, identitas, dan
status sosial. Sementara "Nyantri" adalah kata kerja, sebuah proses,
perjuangan, dan manifestasi dari laku spiritual. Pertanyaan mendasar yang harus
kita renungkan hari ini bukanlah sekadar "Siapakah santri?",
melainkan "Apakah kita sekadar menjadi santri, ataukah kita sedang
benar-benar nyantri?"
Memahami
"Santri" sebagai kata benda berarti kita sedang berbicara tentang
identitas. Secara sosiologis, santri adalah mereka yang lahir di lingkungan
pesantren, mereka yang mengenakan sarung dan peci, mereka yang fasih melafalkan
bahasa Arab, atau mereka yang memiliki ijazah kelulusan dari sebuah lembaga
pendidikan Islam tradisional. Identitas ini sering kali menjadi kebanggaan
komunal. Menjadi santri memberikan rasa memiliki (sense of belonging), jaringan
persaudaraan (ukhuwah), dan pengakuan sosial di tengah masyarakat.
Namun, di sinilah
letak bahaya terbesar dari sebuah identitas: nominalisme. Ketika
"santri" hanya dipahami sebagai label, ia rentan berubah menjadi
topeng. Kita sering kali menyaksikan fenomena "santri KTP" atau
"santri musiman". Mereka bangga menyandang label santri di media
sosial, menggunakan atribut kesalehan luar untuk kepentingan politik praktis,
atau memanfaatkan identitas santri untuk mendapatkan simpati dan keuntungan
duniawi. Ketika identitas "santri" terlepas dari ruh perjuangannya, ia
hanya menjadi cangkang yang kosong. Ia adalah bentuk tanpa makna, rupa tanpa
jiwa. Label santri tanpa esensi nyantri hanya akan melahirkan kesombongan
spiritual (spiritual arrogance), di mana seseorang merasa lebih suci dan lebih
berhak menghakimi orang lain hanya karena pakaian dan atribut yang melekat pada
tubuhnya.
Sebaliknya,
"Nyantri" adalah kata kerja yang meniscayakan gerak, proses, dan
pengorbanan. Nyantri bukanlah sekadar duduk di dalam kelas mendengarkan kyai
atau menghafal teks kitab kuning. Nyantri adalah sebuah laku, sebuah tempaan
yang keras dan menyakitkan untuk menghancurkan ego (takhalli), mengisi diri
dengan cahaya ilahi (tahalli), dan akhirnya memancarkan kebaikan bagi semesta
(tajalli).
Proses nyantri
adalah tentang bagaimana seorang anak muda rela meninggalkan kenyamanan rumah,
tidur beralaskan tikar tipis, berebut kamar mandi di tengah dinginnya malam,
dan menahan lapar. Nyantri adalah tentang riyadhah (latihan spiritual) untuk
mengendalikan hawa nafsu, khidmah (pengabdian) kepada kyai dan sesama santri
untuk menumbuhkan kerendahan hati, dan mujahadah (perjuangan sungguh-sungguh)
untuk tetap istiqamah di jalan Tuhan ketika teman-teman sebayanya di luar sana
sedang tenggelam dalam hiruk-pikuk dunia. Nyantri adalah proses peleburan; di
sana, "aku" yang sombong, "aku" yang ingin dipuji, dan
"aku" yang manja, secara perlahan dihancurkan oleh disiplin
pesantren, hingga yang tersisa hanyalah "hamba" yang tunduk kepada
Sang Pencipta.
Di era kontemporer
ini, dikotomi antara "menjadi santri" dan "nyantri"
mengalami krisis yang cukup memprihatinkan. Budaya modern yang serba instan,
cepat, dan berorientasi pada hasil akhir (result-oriented) telah menggerus
esensi dari nyantri itu sendiri. Generasi muda hari ini sering kali
menginginkan "cahaya" dan "keberkahan" menjadi santri,
tetapi enggan melalui proses "nyantri" yang lambat, sunyi, dan penuh
kesabaran. Mereka ingin menjadi ulama atau tokoh agama secara instan, tanpa mau
menempa diri bertahun-tahun dalam bilik pesantren yang menyepi. Media sosial
memperparah keadaan ini dengan memviralkan kesalehan permukaan, di mana orang
lebih peduli pada bagaimana terlihat saleh di depan kamera, daripada bagaimana
menjadi hamba yang khusyuk di sepertiga malam yang gelap.
Oleh karena itu,
tantangan terbesar umat Islam dan pesantren hari ini adalah mengembalikan makna
"nyantri" dari sekadar rutinitas fisik menjadi sebuah kesadaran
ontologis. Kita harus menyadari bahwa menjadi santri (sebagai identitas) adalah
sebuah anugerah dan takdir, tetapi nyantri (sebagai proses) adalah sebuah
pilihan dan perjuangan yang harus diperbarui setiap detiknya.
Lebih jauh lagi,
kita harus mendobrak tembok fisik pesantren. Nyantri tidak boleh berhenti
ketika seorang santri lulus dan kembali ke masyarakat. Justru, di sinilah ujian
sesungguhnya dimulai. Dunia luar dengan segala godaan, intrik, dan
materialismenya adalah "pesantren" yang jauh lebih besar dan lebih
ganas. Jika seseorang hanya bisa nyantri ketika berada di dalam lingkungan
pesantren yang kondusif, maka kesalehannya masihlah rapuh. Hakikat nyantri yang
sejati adalah ketika seseorang mampu membawa "suasana pesantren" ke
dalam ruang kantor, ke dalam pasar, ke dalam parlemen, dan ke dalam ruang
publik lainnya.
Santri yang hakiki
adalah mereka yang telah bertransformasi menjadi "pe-nyantri"
sepanjang hayat (long life nyantri). Mereka menjadikan setiap detik kehidupan,
setiap interaksi sosial, dan setiap profesi yang digeluti sebagai sarana untuk
mendekatkan diri kepada Tuhan. Mereka tidak lagi membutuhkan pengawasan kyai
atau aturan pesantren untuk berbuat baik, karena "kyai" sejati telah
bersemayam dalam hati nurani mereka, dan "aturan" pesantren telah
melebur menjadi integritas moral yang tak tergoyahkan.
Pada akhirnya,
merenungkan makna "Santri atau Nyantri" adalah sebuah undangan untuk
melakukan introspeksi diri yang mendalam. Label "santri" akan segera
luntur dimakan usia, atribut fisik akan usang dan tercabut waktu, dan pengakuan
sosial akan segera dilupakan. Yang akan tetap abadi, yang akan menjadi pemberat
timbangan amal di yaumil hisab, bukanlah seberapa bangga kita menyandang gelar
santri, melainkan seberapa dalam, seberapa ikhlas, dan seberapa keras kita
telah "nyantri" dalam mengabdi kepada-Nya dan melayani ciptaan-Nya.
Mari kita berhenti
sekadar puas dengan menjadi santri. Mari kita mulai, dan terus-menerus,
menghidupkan ruh nyantri dalam setiap tarikan napas kita. Karena pada
hakikatnya, dunia ini bukanlah tempat untuk sekadar memamerkan identitas,
melainkan ladang untuk terus- menerus nyantri, menempa diri, hingga kita pulang
dalam keadaan yang paling paripurna.
Tag : No Tag
Berita Terkait
Rehat
Tajuk
Memahami Pemikiran Jenderal Dudung Abdurachman
PERLUNYA MENGUBAH CARA PANDANG PEDAGANG DI LOKASI WISAT...
Berita Populer
Arief Putra Musisi Anyar Indonesia
Ketua Umum GRIB H Hercules Rozario Marshal, Saya Bagian Dari Masyarakat Indramayu
Project Fly High Terinspirasi dari Pengalaman Hidup Dr Joe dan Tamak
Dari Kegiatan Aksi Sosial, Hercules Kukuhkan Ketua DPC GRIB JAYA Se-Jawa Barat
Chief Mate Syaiful Rohmaan
SAU7ANA
GMBI Kawal Kasus Dugaan Penipuan PT. Rifan Financindo Berjangka di PN Bandung
Indramayu Diguncang Gempa Magnitudo 4.4, Kedalaman 280 Kilometer
Ivan Lahardika Arranger dan Komposer Indonesia
SAU7ANA Come Back