Loading

Tiga Dekade Hijjaz: Dari Era Kaset hingga Gasibu Bandung Indonesia dan Istana Budaya Malaysia, Legenda Nasyid Malaysia yang Memiliki Tempat Istimewa di Hati Penggemar Indonesia


Reporter: Syah Ma'mur
12 Jam lalu, Dibaca : 157 kali


(foto ini dilindungi hak cipta Internasional)

KUALA LUMPUR – Bagi saya sebagai jurnalis Indonesia yang mengikuti perkembangan musik nasyid Malaysia, Hijjaz bukanlah nama yang asing. Sejak kemunculan video klip mereka di berbagai stasiun televisi Indonesia sering wara Wiri di era tahun 2000an pertengahan, saya sudah mengikuti perjalanan dan sepak terjang kumpulan nasyid negeri Jiran ini, mulai dari membeli dan mendengarkan album-album mereka melalui kaset, menyaksikan VCD album Hijjaz, menikmati video klip yang ditayangkan televisi Indonesia, hingga mengikuti berbagai wawancara mereka di sejumlah program televisi yang semua nya ini tahun 2000an pertengahan.

Bahkan, bisa dikatakan setelah Raihan, Hijjaz merupakan kumpulan nasyid Malaysia yang menempati pilihan kedua sebagai grup nasyid favorit saya.

Ada alasan tersendiri mengapa Hijjaz memiliki tempat istimewa di hati para penggemar nasyid Indonesia. Kekuatan vokal, karakter melodi, aransemen musik serta lirik yang sarat pesan kerohanian menjadi perpaduan yang membuat karya-karya mereka mudah diterima masyarakat lintas generasi.

Nama Hijjaz semakin dikenal luas di Indonesia melalui sejumlah karya yang hingga kini masih melekat dalam ingatan penggemarnya. Sebut saja nasyidb Pemimpin 3 Derajat yang sangat melegenda dari zaman group nasyid  Nadamurni sampai ke Era Hijjaz setelah itu  nasyid Asmaul Husna, nasyid Rasulullah, nasyid Rindu, nasyid Zapin Kesykuran,nasyid Malam, nasyid Sumayyah (nasyid Sumayyah pernah menempati chart teratas nomer wahid selama betahun tahun di salah satu number one yakni radio Dakwah dan Nasyid Indonesia) dan  nasyid Selimut Putih dan masih banyak betumpuk nasyid2 Hijjaz yang top di Indonesia, kalau saya tulis semua judul nasyidnya ntar isi berita ini berubah menjadi daftar lagu nasyid Hijjaz terpopuler di Indonesia sepanjang masa. Sip saya terusin ya pembaca semuanya, dan tidak hanya itu, album Doa dan Zikir juga menjadi salah satu karya yang memperkenalkan kekuatan musik religi nasyid Hijjaz kepada masyarakat Indonesia (kalimat musik religi sangat umum berlaku di Indonesia,berlaku untuk Qasidah moderen seperti group Bimbo, Shalawat seperti Haddad Alwi dan Sulis,dan band band pelantun lagu religi setiap Ramadhan)

Keistimewaan Hijjaz terletak pada kemampuannya memadukan karakter musik nasyid dengan lantunan selawat dan nuansa kerohanian. Perpaduan tersebut bukan sekadar menghadirkan hiburan, tetapi juga memberikan ruang bagi pendengar untuk menikmati musik sekaligus meresapi pesan spiritual di dalamnya.

Tiga Dekade Perjalanan dan Kesetiaan Peminat

Perjalanan Hijjaz dalam industri musik nasyid Malaysia kini telah mencapai tiga dekade. Didirikan pada 10 Januari 1997, group nasyid negeri Jiran ini terus mempertahankan eksistensinya melalui karya-karya yang memiliki karakter tersendiri.

Saat ini Hijjaz diperkuat empat personel, yaitu Munif bin Ahmad, Isman Nadim bin Isam, Mohd Faizal bin Osman dan Muhammad Ariffin bin Ahmad Rahim.

Dalam perjalanan awalnya, Hijjaz juga diperkuat Allahyarham Mohd Salleh bin Ramli atau lebih dikenal dengan nama Soleh. Kepergian beliau  menjadi kehilangan besar bagi perjalanan group nasyid Hijjaz,untuk mengenang almarhum Hijjaz mengeluarkan satu nasyid dalam sebuah album Pelita Hidup 2 dengan judu nasyid nya Kau Sahabat Kau Teman.

Namun, kehadiran Ariffin sebagai anggota baharu kemudian melanjutkan perjalanan Hijjaz hingga tetap dikenal sebagai salah satu kumpulan nasyid legendaris Malaysia.

Bagi penggemar di Indonesia, perjalanan tiga dekade Hijjaz bukan hanya tentang popularitas sebuah grup musik, melainkan juga tentang kenangan yang tumbuh bersama lagu-lagu mereka.

Bandung dan Jakarta Menjadi Bagian dari Perjalanan Hijjaz di Indonesia

Popularitas Hijjaz di Indonesia bukan hanya terlihat melalui peredaran album dan penayangan video klip di televisi. Kumpulan ini juga pernah hadir secara langsung menyapa para penggemarnya melalui sejumlah pertunjukan di Indonesia.

Bandung dan Jakarta menjadi bagian dari perjalanan tersebut, khususnya pada era awal hingga pertengahan 2000-an.

Salah satu momen yang masih membekas dalam catatan dan ingatan saya adalah ketika Hijjaz tampil di Lapangan Gasibu, Bandung, sekitar tahun 2002 dengan Tag line Konser Persaudaraan.

Pertunjukan tersebut mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Berdasarkan catatan,riset dan interview saya  dengan Fans Nasyid Hijjaz di beberapa kota  Indonesia yang hadir di konser tersebut, yakni dari  Kupang NTT,Ambon,Papua Bandung,Jakarta,Jawa Tengah ,Makassar Sulawesi Selatan,Gorontalo,Lampung,Palembang yang mana fans Hijjaz dari beberapa kota  tersebut hadir sebagai penonton dan barengan dengan sekitar 5.000 penonton di Kota Bandung Jawa Barat  menyaksikan bersama fans Hijjaz dari seluruh Indonesia menyaksikan penampilan Hijjaz di kawasan yang berada di depan kawasan Gedung Sate Kantor Pemerintahan Gubernur Jawa Barat Indonesia.

Jumlah penonton itu menjadi gambaran bahwa musik nasyid Malaysia ketika itu memiliki daya tarik yang sangat kuat di Indonesia. Hijjaz bukan sekadar dikenal oleh komunitas penggemar nasyid, tetapi juga mampu menghadirkan pertunjukan dengan antusiasme massa yang besar.

Fenomena tersebut juga memperlihatkan bahwa hubungan musikal Indonesia dan Malaysia sudah terjalin erat jauh sebelum hadirnya berbagai platform digital seperti sekarang.

Pada masa itu, penggemar mengenal Hijjaz melalui kaset, VCD, televisi dan pertunjukan langsung. Mereka menghafal lagu, mengoleksi album, mengikuti perkembangan personel dan menantikan kesempatan bertemu langsung dengan grup idolanya.

Karena itulah, bagi saya, perjalanan Hijjaz di Indonesia memiliki nilai sejarah tersendiri dalam perkembangan industri musik religi dan nasyid di Tanah Air. 

(Keterangan foto Lapangan Gasibu Bandung Jabar 2002 Konser Persaudaraan bersama Grup nasyid HIJJAZ, hak cipta Foto Harmony Enterprise Bandung dan Blackboard Musik Label)

Memasuki usia tiga dekade, Hijjaz menghadiahkan sebuah persembahan istimewa melalui Konsert Hijjaz 3 Dekade : Rindu Sumayyah yang berlangsung di Istana Budaya Malaysia.

Konser selama dua malam suntuk tersebut mendapat sambutan luar biasa dengan tiket yang habis terjual (sold out). Perhelatan ini sekaligus menjadi perayaan perjalanan panjang Hijjaz dalam mewarnai industri musik nasyid Malaysia.

Tepat pukul 8.30 malam waktu Malaysia/Indonesia 19.30 WIB, pertunjukan dibuka dengan lantunan Asmaul Husna sebelum dilanjutkan tayangan montaj menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Diiringi Orkestra Simfoni Kebangsaan, empat personel Hijjaz, yaitu Munif, Isman, Faizal dan Ariffin, membawakan 32 buah lagu yang menjadi bagian penting dari perjalanan karier mereka.

Sejumlah lagu yang dipersembahkan antara lain Bismillah, Zapin Kesyukuran, Dia Kekasih Allah, Fatamorgana dan Pelita Hidup.

Suasana semakin meriah ketika Hijjaz membawakan medley Meniti Mimpi, Sebelum Terlena dan Malam. Interaksi hangat antara para personel dengan penonton juga menjadi salah satu momen yang memperlihatkan kedekatan mereka dengan penggemar.

Bagi Hijjaz, dukungan para penggemar yang telah mengikuti perjalanan mereka sejak era kaset merupakan penghargaan yang sangat berarti.

“Terima kasih atas doa untuk berhibur bersama kami. Ada yang mengikuti Hijjaz dari masa masa awal pada zaman era kaset,” ujar Isman.

Konser dilanjutkan dengan lagu-lagu bernuansa kerohanian seperti Rindu, Jalan Bahagia, Yang Maha Penyayang, serta medley Rabbi Sallimna, Hukum Tuhan dan Mesra Desa.

Salah satu momen paling emosional terjadi ketika Hijjaz membawakan Kau Sahabat Kau Teman sebagai bentuk penghormatan untuk mengenang mantan personel mereka, Allahyarham Mohd Salleh Ramli.

Persembahan kemudian berlanjut dengan lagu-lagu populer lainnya, termasuk Qasidah, Rasulullah, Irama Kasih, Ritma Kehidupan, Gurindam Berkasih, Permaisuri Hatiku dan Berkorban Demi Cinta.

Melibatkan Generasi Penerus Nasyid

Tidak hanya merayakan perjalanan Hijjaz, konser ini juga menjadi ruang untuk memperlihatkan kontribusi mereka dalam melahirkan dan membina generasi penerus musik nasyid.

Sejumlah grup yang pernah berada di bawah naungan pengurusan HRSB (Hijjaz Record Sendirian Berhad) turut tampil diatas panggung yang sama, di antaranya In-Team, UNIC, Aeman, Mestica.

Masing-masing membawakan lagu nasyid andalan seperti Kasih Kekasih,Ainul Mardhiah, Buatmu Ibu,Puteriku Sayang.

Panggung semakin menarik dengan kehadiran Hijjaz Junior yang diperkuat anak-anak para personel Hijjaz melalui lagu nasyid Cahaya Ilahi.

Rangkaian penampilan tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan Hijjaz tidak hanya berhenti pada eksistensi sebuah grup, tetapi juga mencakup kontribusi terhadap perkembangan ekosistem musik nasyid Malaysia.

Lagu-lagu lainnya seperti Sifat Mahmudah, Mata Hati, Kawan, Dunia Yang Sepi dan Sunnah Orang Berjuang (nasyid Sunnah Orang Berjuang adalah nasyid evergreen dari zaman group nasyid Nadamurni) turut melengkapi kemeriahan konser.

Dalam kesempatan tersebut, Faizal juga mengungkapkan bahwa Hijjaz baru saja menerbitkan album terbaru setelah sekitar 15 tahun tidak merilis album, dengan enam lagu di dalamnya.

“Kami baru sahaja terbitkan album baharu setelah 15 tahun tidak keluarkan album yang memuatkan enam buah lagu,” ungkap Faizal.

Konser yang berlangsung hampir tiga jam itu kemudian ditutup dengan lagu Lukisan Alam dan Terima Kasih Segalanya sebelum Hijjaz menghadiahkan lagu legendaris Sumayyah sebagai penutup persembahan.

Tiga Dekade, Dua Negara, Satu Kecintaan terhadap Nasyid

Bagi saya, perjalanan tiga dekade Hijjaz merupakan bagian dari sejarah panjang hubungan musik nasyid/musik religi Indonesia dan Malaysia.

Sebelum dunia digital berkembang seperti sekarang, karya-karya Hijjaz telah lebih dahulu menyeberangi batas negara melalui kaset, VCD, televisi dan panggung pertunjukan.

Lagu-lagu mereka dikenal, dinyanyikan dan diapresiasi oleh masyarakat Indonesia.Konser Hijjaz di Bandung dan Jakarta ketika dulu  menjadi saksi bahwa musik nasyid Malaysia pernah memiliki basis penggemar yang sangat kuat di Tanah Air Republik Indonesia.

Kini, setelah tiga dekade berkarya, Hijjaz kembali membuktikan bahwa musik yang membawa pesan kebaikan, nilai kemanusiaan dan kerohanian tidak mudah kehilangan tempat di hati pendengarnya.

Bagi saya pribadi, Hijjaz bukan sekadar kumpulan nasyid dari Malaysia. Mereka adalah bagian dari perjalanan panjang kecintaan saya terhadap musik nasyid, sebuah perjalanan yang dimulai sejak era kaset dan terus berlanjut hingga era musik digital hari ini.

Selamat berkah sukses untuk konser tiga dekade  Hijjaz,Barakallahu Fikum. Semoga terus berkarya, menyebarkan pesan kebaikan dan mempererat ukhuwah melalui musik nasyid di Indonesia Malaysia dan berbagai belahan dunia.           

 

#SudahSunnahOrangBerjuang

#MengembaraDanBerkelana

#MiskinDanPapahJadiTradisi

#MerenggangDenganAnakDanIstri

Tag : No Tag

Berita Terkait